Pagi itu, seperti biasanya, aku adalah orang pertama yang membuka pintu depan rumahku. Itulah tanda aku memberikan kabar kepada warga gg. Ijan bahwa aku akan berangkat pagi sekali. Pagi itu, tidak seperti biasanya, terdengar teriakan seorang bocah kecil. Seperti berontak pada sang ayah. Lalu ku intip anak itu dari sela-sela pagar rumahku. Oh, dia hendak berangkat sekolah. Ada apa gerangan?
Dibalik pertanyaan ku atas apa yang terjadi dengannya, memori ku kembali ke masa-masa sekolah dasar ku..
Pagi itu, seperti biasanya, rumah ku adalah yang pertama membuka pintu rumah depan kami. Itulah tanda bahwa aku dan kakakku siap pergi ke sekolah. Dan aku adalah sebagai tanda bahwa pagi itu, rumah ku turun hujan. Setiap paginya, ada saja alasan ku untuk menangis. Hilang buku lah, PR ku belum selesai lah, pensil hilang lah, atau apapun. Hal kecil sekalipun. Sudah perkara biasa.
Sedih rasanya melihat adik itu menangis. Aku tau apa yang terjadi padanya. Ayahnya meminta ia untuk berangkat ke sekolah, dan adik kecil itu menolaknya secara berontak. Ketahuilah, sekolah itu indah sayang.
Lalu ku dekati adik kecil itu, aku tidak berkata apapun, aku hanya menggenggam tangannya. Aku harap semangatku penuh harap padanya bisa tersampaikan. Dan aku meminta izin pada ayahnya untuk mengantarkan anak itu ke sekolahnya.
Dik, ketahuilah, Indonesia perlu kamu. Maka beruntunglah kamu, dik. :)
Komentar
Posting Komentar