Sebuah Paket Tak Terduga

Sore tadi perjalanan menuju rumah, berawal biasa aja. Sangat biasa. Biasa seperti biasanya. Di tengah perjalanan, di depan salah satu mall elektronik di Bandung, tetiba terlihat salah satu sosok wanita yang familiar. Tanpa pikir panjang, tanpa takut salah, langsung aku berteriak dan meminggirkan motorku. Ku cium tangannya dengan penuh getar, ku cium pipi kiri-kanannya. Bu Aryanti.

Bu Aryanti, atau bu Aar, adalah guru ngaji yang kemudian jadi guru les aku, teteh, dan mpik, dari kelas 3 SD sampai 6 SD. Dulu, ibu masih muda, tapi terpaut umur puluhan tahun dengan kami, masa itu. Ibu tetap saja bisa menyesuaikan dirinya, mengikuti langkah kami. Perlahan, ibu yang menjadi teman ku sepnajang 'golden age' ku. Ibu yang mengajak kami ke museum geologi, ibu yang mengajak kami ke IP dan kami bertukar kado, ibu yang mengajari kami bagaimana caranya mengingat nomor handphone dengan mudah.
Ibu yang mengajariku bahwa matematika itu menyenangkan, ibu yang mengajariku bahwa mengajar anak kecil itu menyenangkan, ibu yang mengajariku bahwa piala itu tidak penting, ibu yang mengajariku 'Belongs to...', ibu yang mengajariku tentang banyak hal.
Adalah dengan ibu, belajar dengan sukarela. Sederhana, stiker kecil yang ibu kasih setiap aku bisa memenangkan waktu drill tercepat, penghargaan luar biasa. Adalah ibu, guru yang sabar banget nuntun aku sekalipun aku gak mau dituntun. Adalah ibu, senyum ibu gak pernah aku lupa.

Pertemuan sore tadi begitu singkat. Dan pertanyaan yang cukup menampar...
A: "Betah kuliahnya?"
R: "Gitu deh bu, setengah hehe"
A: "Tingkat 4 ya? Masa sih? Harusnya udah enjoy tau!"
R: "Iya bu, Ratihnya aja ini mah.."

Maka seharusnya aku sudah ikhlas kuliah disini.

Diakhir perjumpaan, aku memeluk ibu dengan erat. Bu, Ratih berasa muda lagi, berasa anak kecil lagi...

Bu, sekalipun ibu gak seumuran ratih sekarang, ibu adalah sahabat terindah, terbaik, terluar biasa, yang pernah ratih kenal, bu.

Sampai ketemu lagi ya, bu. Ratih sayang bu Aar...

Komentar