Hujan, Lagi-Lagi Aku Jatuh Cinta

Dibalik kegusaran ku akan kemacetan yang semakin menjadi-jadi ketika hujan, aku menyimpan perasaan pada hujan.

Dulu, hujan itu penantian. Penantian akan munculnya pelangi selepas hujan reda (kaya lirik lagu Maliq gini yak). Selalu membelakangi matahari selepas hujan reda, berharap bisa melihat pelangi di depan mata. Sesekali pelanginya muncul, selanjutnya tidak nampak. Mungkin pelangi malu, pelangi belum siap bertemu dengan ku. Atau pelangi sengaja, sengaja membuat pertemuan kami begitu terbatas hingga terasa spesial?
Aku juga suka pelangi. Pelangi selepas hujan reda.

Dulu, hujan itu penantian. Penantian wangi tanah yang basah dan mengeluarkan hawa panas ketika melewatinya. Selalu sengaja berjalan ke daerah berlahan tanah, melewatinya memiliki sense tersendiri. Wangi tanah dan panas yang ditawarkan tanah memberikan senyum manis untukku, mengingatkan bahwa kelak pun aku akan kembali ke tanah.

Sekarang, hujan itu penantian, terlebih kalau hujannya malam hari. Pernahkah kamu mencoba menengadah menatap langit gelap mengeluarkan rintik-rintik air? Itu manis. Gak keliatan? Larikan pandangan mu ke arah lampu jalan yang menyinari turunnya rintik hujan. Itu manis. Masih belum keliatan juga? Segeralah pulang ke rumah, nak!

Hujan, sejak dulu aku sudah jatuh cinta dengan kehadiranmu. Sekarang, aku makin jatuh cinta. Jatuh cintaku berbanding luruh dengan jatuh air hujan itu. Subhanallah.

Komentar