Membahas tentang menikah, ah menikah. Baiklah. Sebenarnya ini bukanlah hal yang 'ujug-ujug'. Menginjak satu minggu tepat aku mendengar kabar kalau bang Azhar akan menikah. Terlebih, baru kemarin-kemarin mengerjakan surat undangan teh Amy dan kang Cecep, dirasa wajar kalau hari-hari kebelakang hanya membahas tentang pernikahan.
Tapi perlu lah kalian tahu, pernikahan bukan hanya tentang kamu bersama orang ganteng nomor 3 di dunia mu, bukan hanya itu. Ratih, bukan hanya itu. Bukan hanya tentang aku jalan sama cowok dan gandengan, dan dunia berasa milik berdua. Bukan cuma itu. Ratih, bukan cuma itu. Menikah itu ibadah. Bayangkan, setengah dari agamamu berada ada pernikahanmu. Perjalanan panjang itu tidak hanya tentang siapa yang kamu gandeng saat kamu pergi ke acara reuni, atau siapa yang mengajakmu nge-teh sore hari. Masalah kelayakan, oh baiklah, ini perlu waktu yang panjang.

Ternyata aku masih harus menyimpan cita-cita rumah pohon ku, cita-cita melihat aurora ku, cita-cita pergi ke Jerman ku, bersama orang ganteng nomor 3 ku. Jujur saja, aku masih belum layak. Semoga Allah masih memberi ku waktu untuk menjadikan ku layak bersanding bersama mu, menggandeng tanganmu, dan buku ini akan ku hadiahkan untukmu. Kau tidak akan kehilangan masa-masa ku yang lalu.

Kamu, orang ganteng nomor 3 ku, semoga kamu yang terbaik yang menjadi hadiah terbaik atas segala penantian dan kepatuhanku akan waktu.

Komentar