I Gotta Go

"Yang penting itu kontribusi"

Seperti dibawa ke setahun lalu. Yang penting ada disitu, dan nyatanya tak ada yang bisa aku lakukan banyak. Tidak hanya kontribusi ternyata, tapi wadah juga penting.
Bukan, aku bukan bicara tentang posisi atau jabatan. Posisi bukanlah cita-cita terpendam. Banyaknya, posisi adalah bentuk sebuah pengorbanan. Korban paksaan, korban kasihan, korban gak-ada-lagi.

Aku masuk lagi ya, aku jadi staf aja, aku temenin kalian, aku sayang sama kalian. Sekian. Mencinta memang tak perlu susah, sederhana saja. Aku sayang sama kalian. Berjalan 1 bulan semua baik-baik saja. Selanjutnya? Ruang gerak agak terbatas. Siapa aku? Punya hak apa? Baiklah, i just watching. Gereget? Banget!
Apa rasanya gak bisa dateng rapat karena bukan hak-nya, tapi khawatir dan akhirnya cuma dengerin lewat telepon tanpa punya hak suara, cuma bisa dapet hasil akhir dari rapat dengan segudang, "KOK?"? Satu tahun hampir, dan itu semua tidak berhasil. Nyelek.
Sekarang mau gitu juga?

Kontribusi emang penting, tapi kita juga perlu wadah.
Minimalnya punya hak suara, minimalnya bisa belokin ke arah berlawanan ketika udah mulai belok ke arah yang lain, meski cuma beberapa derajat mungkin.

Iya, tapi kemudian bagaimana dengan yang lain?
aku pergi.

Komentar