فَبِأَىِّ ءالاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Ar-Rahman
Masih bisa bernapas tanpa sesak, masih bisa mengedipkan kelopak mata, masih bisa berjalan dengan kaki, masih bisa merasakan hembusan angin di sekitar, masih bisa tersenyum meski sariawan. Masih bisa berdetak jantungnya. Lebih keras jika ada yang melintas.
Terkadang kita lupa dengan nikmat-nikmat kecil yang Allah berikan pada hidup kita. Berapa banyak nikmat yang hari ini sudah disyukuri? Bersyukur tidak hanya berucap Alhamdulillah, tapi juga menjaganya sebagai sebuah amanah. Seperti ketika berbuat kesalahan, bertaubat tidak hanya dengan mengingat Allah lalu berucap Astagfirullah, tapi juga berubah ke arah yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, jangan turun. Meskipun Allah sudah berjanji dalam Al-Qur'an bahwa tingkat keimanan seorang manusia itu naik turun, tapi buatlah naiknya itu 10 dan turunnya itu 2.
Bersyukur.
Bagiku, bersyukur adalah hal yang sulit. Terkadang lupa aku disini karena apa, beruntunglah memiliki lingkungan yang selalu mengingatkan. Alhamdulillah.
Datangilah sebuah rumah sakit, iseng boleh, atau kalau ada kesempatan menjenguk kerabat, maka gunakanlah kesempatan itu. Berdoa untuk orang-orang yang diberi cobaan, semoga sabar, dan semoga jadi penggugur dosa.
Kemarin, pergi ke Rumah Sakit Paru Rotinsulu yang di daerah Ciumbuleuit. Baru tau juga kalau ada rumah sakit paru di Bandung. Menjenguk salah satu rekan yang terserang tumor paru-paru. Belum, hatiku belum tersentuh. Hanya 'yaampun tumor paru. sedih'. Masuk ke ruangan, tidak ada kesedihan disana. Santai. Sebut dia Rifki. 16 tahun, ganteng, soleh, pinter, dan terserang tumor paru-paru. Ngobrol sama tante, 'Ade gak pernah ngeluh. Sakit aja ade gak bilang. Ketauannya pas kemarin-kemarin aja, ade demam dan sesek, di rontgen, yaa udah deh dibawa kesini. Ade mah gak pernah cerita, kalau sakit juga ditahan aja.', aku menaruh perhatian ku lebih. 'Ade waktu mau masuk rumah sakit aja bela-belain ngerjain UTS yang buat besok, padahal mah ya duh ade, mamah mah yang penting ade sembuh', baiklah baiklah apa selanjutnya Tuhan? 'Yang berhasil diangkat cuma 70%, sisanya udah lengket dan kalau diangkat takutnya...' tante memutus kata-katanya, memegang erat tangan ibu yang saat itu ada di samping tante. Ku tatap lamat-lamat Rifki. Subhanallah, dari sabarnya aja, Rifki udah keren banget. 'Kemarin waktu abis operasi, dokter bilang, Kalau Rifki bisa duduk, besok boleh ke kamar, janji. Besoknya Ade langsung bilang sama dokternya kalau Ade bisa duduk, Ade berusaha dari malem biar bisa duduk, sampai gak tidur.' Rifki menatap kami disitu curi-curi pandang. Kondisi Rifki kalau dilihat dari fisik, tidak ada yang salah. Semua baik saja. Hanya mungkin terlihat sangat kurus, tapi tidak ada tanda penyakit ganas yang menggerogoti, Rifki...
Tidak kah engkau curiga, ananda Ratih? Perlu ditampar keras seperti ini kah. Semangatnya, sabarnya, usahanya, Rifki ini keren banget. Ratih gimana? Sariawan sedikit ngeluh, banyak tugas ngeluh, ngeluhnya sampai 'nikah ajalah gak usah lulus dede mah'. Padahal, dari segi apapun aku bisa dan bahkan lebih dari apa yang dilakukan Rifki.
Maka bersyukurlah, tersenyum. Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu.
☺
BalasHapus