Duduk di kerumunan makhluk berseragam putih-abu membuat ku menutup buku yang belum habis ku baca selama satu minggu ini, payah. Apa yang membuat ku harus menutup buku ini? Jajanan anak SMA? Iya. Tepat sekali. Hari ini aku memborong sebungkus 'cilok modip' lengkap dengan saus yang kesterilannya tidak terjamin. Untung saja perut ini tidak terlalu rewel untuk urusan kebersihan, berbeda untuk urusan kepedasan, itu sudah dengan dokter urusannya, lebih kompleks lagi.
Ku pandangi sekitar. Hihi lucu. Ada yang jadi idola, ada yang jadi sentral, ada yang sendiri.
Dia yang jadi idola adalah yang jualan spagheti, sosis, kue pie, brownis, dan makanan ringan yang ia bawa dari rumah untuk dijual di sini. "Eh itu rizki" bergemuruh lah yang lain, dengan sorot mata ramah dan nyaman Rizki melayani semua permintaan yang lain. "Ki, titipan aku mana?" "Ki ada nasi?" "Ki kemarin uang aku di kamu ada 2000 kan?" "Ki ini berapa?" Rizki, yang mulutnya ditutupi masker menjawab seperlunya, sisanya tersenyum, terlihat dari bentuk mata yang berubah melengkung.
Dia yang jadi sentral. Tak pernah terlihat sendiri. Dari ujung pintu keluar sampai ke tukang dagang, bahkan pintu toilet. Tak pernah sendiri, semakin siang semakin riuh sekelilingnya, semakin banyak orang, semakin banyak obrolan, tak karuan. "Nanti pulang kemana?" "Eh yang kemarin itu siapa yang menang?" "Sekarang ujian lagi?" "Woy!" Si sentral mulai kelelahan "udah? Masuk yuk!"
Ada yang sendiri. Sepertinya anak yang baik. Yang masuk sekolah hanya untuk mengikuti apa kata ibunya, dan kini dia lapar. Dia yang sendiri tak peduli keadaan sekitar. "Aku mau batagor" dicarinya tempat duduk dan asyik makan. Bel berbunyi. Agak lama memang, dia yang sendiri memilih masuk lebih lambat dibanding teman-temannya yang lain. Aku kenyang.
Menunggu ibu kembali dari pertemuannya dengan walikelas adikku, aku menulis kan kisah ini.
Lucu. Aku seperti diminta untuk melihat masa ku yang dulu. Aku yang tak pernah melihat dia yang idola, dia yang jadi sentral, dia yang sendiri. Ku hembus kan nafas agak memaksa. Itu kah aku? Sepertinya iya. Bahkan sekarang pun begitu. Aku yang idola, aku yang menjadi sentral, lebih seringnya aku yang sendiri...
Komentar
Posting Komentar