Dunia 8 Jiwa

Hal bodoh apalagi yang akan kau lakukan hanya untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu? Aku dan mereka tak pernah berujung ada. Temu selalu dirindu. Tapi dunia tak bisa berkata ya. 2 hal yang berbeda tak bisa jadi sama.

Sore tadi tetiba ada yang telepon, katanya namanya Arya. 'Arya? Arya di kehidupan aku cuma ada 2. Kang Arya yang baru lulus kemarin yang bahkan aku baru tau namanya Arya waktu dia wisuda, dan Arya 'lale' Maliq, ini Arya siapa ya?' Dia mencoba menjelaskan lebih detail. Bohong. Tak mungkin ini dia. 'Datanglah malam ini, kami tunggu' Apa dia bilang? Kami? Telepon berbunyi tut-tut-tut.
Sampai di rumah, aku memilih kasur sebagai tempat mendarat tas dan segala macam peralatan liputan hari ini. Lelah. 'De, cepet sana mandi, malam ini kita keluar' Apa? Malam ini? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku iya kan.
Malam datang.
Masih ingat dengan 'kami' yang aku ceritakan sebelumnya? 7 orang itu datang menghampiri, mereka mengaku 'kami' yang disebutkan oleh lelaki bersweater merah dengan kerah kemeja putih. Arya. Aku terdiam. Aku pikir ini mimpi. Semoga ini mimpi.

Aku hampir berhasil menyingkirkan hal ini, khayalan yang tak cocok jadi kenyataan. Ya tak cocok, karena dunia tak bisa merealisasikan khayalku yang terlampau jauh. Ini pasti rekayasa.

Aku tak melempar senyum sedikitpun, aku tak berkata apa-apa. Ada hampir 30 menit suasana dingin. Akhirnya pria itu berdiri. 'Maaf', katanya. Sudah ku duga.
'Jujur saja, aku pun tak tau apa yang aku lakukan, untuk apa, dan.. kau siapa, sungguh aku pun tak tau. Juga mereka. Aku tak kenal. Kami baru saja bertemu siang tadi, dan meneleponmu.'
Oh ya tentu saja. Karena 7 orang 'kami' yang kemudian menjadi 'kita' bersamaku, 8 orang, tak akan pernah ada, di belahan bumi manapun.
Perempuan yang mungil dan cantik itu berdiri, 'tapi taukah kamu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini ketika Sang Maha Cipta berkata 'Kun' maka jadilah. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan untuk sebuah kebetulan.'
'Iya...' aku memotong ucapannya. 'Bahkan peristiwa jatuhnya motor tadi. Jika bukan karenaNya, kakiku sudah lebam saat ini, jika bukan karenaNya, abang-abang tadi tidak akan mengangkat motor yang menimpa tubuhku. Kau benar. Tapi sungguh, aku tak menginginkan ini. Arya, Rangga, Igo, Dinda, Ogi, Sinta, Kafi, hampir sembuh aku pergi meninggalkan dunia 8 jiwa ku.'
'Tapi itu kami. Itu Arya, Rangga, Igo, Dinda, Ogi, Sinta, Kafi. Itu kami. Meski kami tak tau apa yang kau maksud dunia 8 jiwa mu, tapi kami yakin ada maksud dari semua ini. Mungkin itu kamu.'
Aku?
Mungkin itu aku yang memang sedang risau, yang mulai mundur, yang mulai memudar, yang mulai hilang. Yang perlu cheerleader ketika harus jadi pionir di depan. Mungkin itu aku. Dan kalian hadir begitu saja, pasti karena kehendakNya.
'Mulai lah lagi dari awal, tak ada kata terlambat. Dunia 8 jiwa mu yang lalu, bukan urusan kami. Tapi kami disini, untuk kamu selalu.'

Aplikasi MuslimKit ku mengumandangkan adzan. Oh, shubuh. Aku bangun. Malam tadi aku pulang rapat terlalu larut dan dijemput ayah. Hanya itu yang aku ingat.

Komentar