Hujan dan Rindu

Langit mendung bagiku adalah kesempatan. Pasti bertemu hujan. Rindu sekali, sudah 1 minggu ini tak ada hujan yang datang ke bumi.

Peristiwa hujan adalah bukti kesungguhan kesabaran terhadap pertemuan yang menjadikan awan jenuh karena rindu. Hujan adalah penyetia. Pembawa pesan rindu awan pada bumi. Kau tau berapa jarak yang memisahkan bumi dan awan? Kau tau berapa lama mereka menunggu untuk bersama? Manis sekali. Mereka tahu bahwa jarak dan waktu yang tercipta pasti adalah kebaikan. Bisa kau bayangkan jika awan dan bumi tak berjarak dan mereka bertemu di waktu yang sekarang-sekarang? Itu kiamat. Mereka percaya hari itu akan tiba, dimana akhirnya mereka bertemu tanpa harus mencipta hujan sebagai pengirim ucap rindu, dan uap yang diterbangkan sebagai balas rindu. Subhanallah, awan dan bumi begitu sabar.

Pertemuan dengan hujan pun terjadi. Aku sengaja tak mengenakan jas hujan untuk bertemu langsung dengan hujan. Diperjalanan, hujan datang sedikit-sedikit, menyapa 'hai!'. Aku tersenyum. Disapa hujan setelah sekian lama rasanya aku dunia berhenti sepersekian detik, 'eh hujan'. Lalu kau datang bergerombol. Begitulah, awan sangat rindu sepertinya. Hujan memang pembawa pesan rindu, tapi tahukah ditiap butirnya ada ruang kosong yang bisa kau isi dengan kata-kata? Ya memang, hujan penyetia. Hujan selalu bersedia menjadi ruang yang aku butuhkan ketika buku tak sanggup menanggung semua kata yang tertulis, ketika tuts keyboard tak bisa diketik setelah sekian lama digunakan, hujan selalu jadi tempat akhir semua kerinduan. Membawanya pada bumi, teresap, melenyap menjadi uap. Dan hari itu menjadi hari yang romantis. Ketika semua orang sengaja menepi, aku tak berhenti. Memang hujan yang aku tunggu. Bercerita banyak satu arah, tapi tak apa aku lebih menyukai itu.
Adakah kau rasakan hujan juga? Itu salam ku untukmu.

Terimakasih Engkau telah menciptakan hujan, awan tak resah, bumi yang menanti, aku yang tak henti berucap syukur padaMu :)

Komentar