J

BDV bukanlah sesuatu yang asing bagi kami yang suka dengan hal berbau development, cita-cita, Gegerkalong, dan bagi kamu yang memiliki ayah seperti ayahku.
Selain di Bandung, Digital Valley juga ada di tempat lain. Jogja. Adalah kota keren bagiku, lahirnya para penulis, para pengrajin, orang-orang kreatif. Tapi Bandung tetap lebih keren.
Kalian tau Lendabook? Itu ada di JDV, Jogja Digital Valley. Aku pernah bermimpi tentang itu, dan sekarang aku sedang menuju tempat Lendabook yang bertempat di JDV. Aku pergi kesana bersama ayah. Ku kira aku hanya akan bersama ayah, tapi ternyata tidak. Sampai di Jogja, aku dan ayah berpisah. Ayah bersama rekan sejawatnya, dan bersama anak-anak rekan sejawatnya ayah. "Tiar", kataku. "Mau ke JDV juga?", kami satu tujuan. Baiklah. Duduk disatu meja yang sama, kami ber-empat berasal dari tempat yang berbeda tapi seolah sudah dari dekat.
Mataku menangkap magnet kutub lain di ujung sebelah kanan, "oh kamu" Mereka menatapku sinis. Aku tersenyum menunduk. Kakak tingkatku.

"Ah dia terlalu tinggi, maksudku lihat saja."
"Lalu mengapa tak kau buat dirimu menjadi lebih tinggi darinya, atau minimal setinggi dia?"
"Tak. Sulit. Aku menyerah. Mungkin bukan jodohnya"
"Bagaimana kau tau?"
"Dia tak pernah menghubungi untuk urusan apapun"
"Kau tak pernah mengusahakannya"
"Pun iya, hasilnya akan nihil"
"Ah kau, jodoh kan gak ada yang tau. Mungkin dia berjodoh dengan ku"
"APA?"

Memalukan. Aku menutup wajahku. Mereka --kakak tingkatku-- duduk di meja bundar sebelah meja bundarku. Akhyar, anaknya pak Budi, rekan sejawat ayahku, teman satu tim ku.

"Maaf mas, ini JDV, Jogja, bukan Jodoh"

Komentar