"Tapi aku bukan capres yang lagi pencitraan."
Pencitraan katamu? Lalu muncul foto-foto yang sedang bersliweran di jejaring sosial mendekati bulan Juli. Oh pencitraan.
"Mungkin bukan pencitraan tih, menahan diri sih kalau kata aku"
Perlu beberapa jam untuk bisa nelen kata-kata teh Alif, bahkan mungkin seharian. Menahan diri? Sampai pada keesokan harinya kemudian aku baru "ya, ya. baiklah" menahan diri.
Sedih kalau kemudian dede-dede yang udah mau masuk trek buat lari tapi gak jadi dan milih untuk duduk lagi karena takut dan ciut, dan kembali ke aktivitas sebelumnya, menyemangati atau bahkan meneriaki para pelari. Sedih. Itu mungkin yang aku rasakan. Cintaku tak sampai. Atau mungkin apa-apa yang ada di langit sesungguhnya belum aku gapai? Atau apa-apa yang sudah digapai, kemudian disimpan saja tidak ditebar?
Menahan diri.
Menahan diri untuk gak nge-dede-dede-in diri sendiri ke adik tingkat, untuk gak nyerah gitu aja dan orang lain harus tau atas kemenyerahan kita, untuk gak sedikit-sedikit galau masalah hati, untuk bisa nahan emosi, untuk bisa sabar sampai aku bertemu denganmu...
Kadang, hal-hal itu yang bikin orang lain yang tadinya bersiap berangkat meroket malah memilih untuk merusak roketnya. Juga aku. Tapi, kenapa harus begitu? Bukankah sejatinya Allah adalah tujuan dari semua yang berjalan, alasan dari semua kejadian, satu-satunya tempat berharap? Tentu iya.
Ikatkan hati kami padaMu, selalu.
Semoga Allah ridha.
Komentar
Posting Komentar