Orang Beruntung Ke 2, Hai!

Mari buka lembaran ingatan tentang Firman (bisa dibaca disini).

Pagi itu aku masuk dengan tergesa karena ternyata diklat sudah dimulai. Baru kali ini kuliah umum berasa kuliah kayak di luar negeri. Riuh, anak-anak dari berbagai jurusan, duduk bertingkat. FYI, sehari-hari aku kuliah di kelas flat kayak anak SMA sih, duduk rapi, nyatet, begitu. Pagi itu langsung duduk di deretan kelompok Wates, sebelah Iqbal yang baru tau kalau itu Iqbal temen sekelompok haha. Duduk dan langsung dengerin pembukaan dari Pak Ono, oh ternyata baru pembukaan. Well well, buka kantong ambil buku dan pulpen, aku siap, pak!
Pandanganku ku lempar keseluruh penjuru kelas. Tidak banyak yang asing, rata-rata yang memilih tempat kkn di Bandung adalah orang Bandung itu sendiri dengan alasan "aku mah mau majuin daerah sendiri", "gak mau jauh-jauh", dan itu alasan aku haha. Lalu tetiba mataku terhenti di satu titik. Eh, kursinya kok beda ya? Oh, kursi roda. Wait! Kursi roda? Dia memalingkan wajahnya sedikit ke belakang. Itu Firman. Firman yang pasti namanya bukan Firman tapi sungguh aku tak tau namanya siapa. Hari itu dipertemukan lagi. Hai manusia beruntung nomor 2, kali ini kau tetap nomor 2, karena nomor 1 nya adalah aku yang menemukanmu. Usai diklat, Firman menuju mobil bersama rekan-rekannya yang sama juga aku temui di depan perpus setiap kali aku menemukannya. Dia memang beruntung. Teman-teman yang tak pernah pergi, bahkan rela mendorong kursinya turun dari lantai 3 menuju mobil di parkiran.
Sejenak aku menundukan kepala. Apa yang telah aku lakukan? Disaat aku melihat Firman bersama teman-temannya, kala itu aku sedang sendiri. Apa karena aku tidak memperhatikan lingkungan sekitar sehingga aku tetap sendiri? Kasarnya, apa aku tidak punya teman? Sehingga di waktu yang sama pula, aku merasa asing dengan orang-orang yang memberiku pesan 'kamu dimana?'
Biarlah, mungkin ada waktunya, dan mungkin bukan sekarang.

Ah Firman, lagi-lagi aku tertampar. Terimakasih atas motivasi yang secara tidak langsung kau berikan.
Kuliah di gedung FIP yang gak ada lift nya dan pasti minimal kuliah di lantai 2 adalah perjuangan, dan kau berjuang. Lalu aku? Lalai. Tugas aja hmm,

Bukan, kau bukan setipe mario teguh, nyatanya kau tidak pernah bicara sedikit pun di depan kala diklat hari itu. Tidaklah perlu menjadi motivator ternama, terkadang, sedikit dari kita yang berbeda bisa jadi motivasi bagi yang lainnya.
Terims :')

Komentar