Tak Ada Yang Kebetulan

Dapat berita dari adik di Bogor kalau di Jakarta, 11 Juli ada aksi #SavePalestine. Jakarta... Maaf mungkin bukan rejekinya untuk ikut turun ke jalan di Bundaran HI, nyatanya ke UI saja harus diantar ayah, apalagi untuk aksi yang hanya sehari. Semoga di Bandung ada ya de.

Malamnya, dapat berita di salah satu grup favorit di whatsapp, ternyata ada aksi juga di Bandung. "Kalau ada di Bandung sih ikutan de", dan insyaAllah Jumat ini akan pergi ke Pusdai de, biar kita berjauhan, tapi tetap satu jua, bukan? Karena Allah. Sebelum benar-benar mantap, lalu di sms teh syifa "De, besok teteh di Bandung, ingin meet up. Besok ke kampus ga?" Dengan jadwal KKN yang sedang padat-padatnya, dirasa gak mungkin untuk ke Setiabudhi, meski rindu tempat itu tak terbendung lagi (amanah hampir lupa), tapi apa daya. "Teteh datang ke Pusdai ga? Janjian disitu aja" Singkat cerita, tibalah hari Jumat. Dari pagi udah pusing mikirin acara seminggu ke depan, bukan perkara dana, Alhamdulillah dengan sangat minim anggaran kita bersiap untuk tetap jalan, tapi masalah eksternal yang kemudian menjadi salah-persepsi masing-masing pihak, kepala kita hampir pecah, beruntung segera bertemu dzuhur. Aku memutuskan untuk pulang lebih awal ke posko. Istirahat yang niatnya hanya 30 menit, ternyata lebih dari 60 menit. Telat. Janji jam 13. Lagi, lagi-lagi perkara waktu, maaf waktu. Segera menuju rumah karena kendaraan juga ada di rumah, FYI posisi rumah sama kosan bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang dari 5 menit saja, hehe. Sampai di rumah, byurrrr hujan. Gusti, semoga hujannya gak lama dan rintik-rintik saja. Dan Alhamdulillah, perjanan ditemani rintik-rintik hujan, meluruhkan cemas dan rindu yang takut tak bertemu. Berkunjung ke sekre Pemuda dulu karena kebetulan ada yang menitipkan, lalu segera pergi ke Pusdai. Pukul 14. Pusdai sudah tak ramai dengan kerumunan orang-orang yang bersiap aksi #SavePalestine. Ah, pasti masing di Gedung Sate. "Kita ketemu dulu ya", kirim. Sampai di Gedung Sate, dapat kiriman dari salah satu grup favorit lainnya di whatsapp "Kang Dedi Mizwar akhirnya turun", oke berarti masih pada di Gedung Sate, dan Alhamdulillah masih disitu. Setelah sampai kemudian, bagaimana caranya mencari satu orang paling keren dikerumunan orang-orang keren, yang hampir satu tahun terpisah jarak Cirebon-Bandung. Tiba-tiba, dipeluk dan pecah sudah. Rindu ku bermuara. "Rindu teh."

"Ratih kesini sama siapa?", "Sendiri teh, mau ketemu Teh Syifa", "Oh"

Iya, niat 100% ku hari itu hanya untuk ketemu Teh Syifa, saja. Tapi sepanjang perjalanan, lalu aku jatuh cinta pada ratusan pemuda yang berani turun ke jalan, dalam keadaan shaum, membela saudara-saudara seiman di Palestina sana. Ternyata ini yang namanya ukhuwah islamiyah. Biar jauh, tapi kita selalu dekat, karena Allah. Terlebih melihat teteh yang selalu setia dengan jaket KSP nya, manis. Tertegun dengan orang-orang yang sengaja mencari kantong yang kami jinjing untuk memberikan sedikit rezekinya untuk saudara-saudara di Palestina sana, biar Allah yang balas.

Sepanjang perjalanan Gedung Sate-Al-Ukhuwah, Allah memiliki takdir luar biasa untuk aku hari ini. Bukan cuma teh Syifa, lalu mba upeh, ibu-mba-upeh, teh Foni, teh Ica, teh Irma, teh Nana, Ijah, teh Murni, teh PD. Alhamdulillah, menuju akhir pekan dikasih hadiah luarbiasa sama Allah :"> Allah memang paling romantis, deh.

Waktu pula yang memisahkan 2 hati yang merindu kala itu. "Tadi teteh ketemu faizah juga, nangis gini juga, teteh kangen, dek" Aku lebih kangen teh. Aku pulang dengan rindu yang semakin tumbuh berkembang. "Sampai ketemu dikesempatan selanjutnya ya teh, selamat datang di Bandung"

Teh Syifa selalu menjadi jalan untuk bertemu dengan orang-orang baik lainnya yang sama-sama berjalan di jalanNya. Semoga Allah senantiasa melindungi malaikat kecil-mungil-lucu itu, aamiin.

"Terimakasih telah menyambut teteh di Bandung dengan cinta, ade"

Ukhuwah itu cinta | Senang bila jumpa | Pisah lalu berdoa - Ust. Felix

Komentar