Bedah Jurnal: Menulis

Sebut saja buku itu jurnal. Dalam kamusku, buku ini bisa disebut buku harian, buku catatan. Aku selalu membawanya hampir setiap hari, dulu. Iya, dulu, karena kini bukunya sudah penuh. Pagi ini aku coba membukanya lagi. Buku ini berukuran senada dengan A5, tapi lebih kecil dari A5, hadiah dari salah satu majalah bulanannya teteh, warna kavernya hijau tosca. Sudah diisi sejak akhir tahun lalu, sampai di tengah tahun ini, alhamdulillah tersisa beberapa halaman saja, berarti ratih rajin nulisnya, tapi tulisannya masih aja jelek haha. Tulisan disini maksudnya guratan tulisanku. Memang sudah berazzam untuk mengisi buku itu dengan tulisan berupa ringkasan atau catatan penting dari ceramahan yang dikunjungi, menlan tiap minggu, atau acara-acara seperti seminar, talkshow, atau bedah buku. Dengan tujuan untuk mengikat ilmu, tulisannya akan berarti kalau dibaca lagi, gak sekedar diikat aja. Pernah ada yang bilang, 'kalau orang lagi ngomong itu didengerin jangan dulu ditulis, kalau udah ngerti, nangkep, paham, baru ditulis', hehehe tapi as, aku sambil latihan nulis juga XD

Membuka buku jurnal ini seolah diminta untuk balik lagi ke beberapa bulan kebelakang, diajak untuk senyum dan malu tertampar-tampar pagi ini. Sebut saja bedah buku bang Tere, kau ingat? BBT DINAMIK, Bincang Edukasi, catatan-rapat (ah ini berasa udah tua banget kalau baca), rihlah, bincang bareng udayusuf, bahkan catatan pertanyaan LPJ aja ada, ah.

Kita kini ada di halaman catatan Bedah Buku dan Talkshow DINAMIK 9, dengan pembicara Bang Azhar Nurun Ala, Mas Tasaro GK, dan moderator Masgun. Dalam catatan yang gak aku tulis lengkap ini, tulisan awalnya adalah "Menulis=modus", lalu aku tertawa. Aku hapal betul ini siapa yang mengungkapkannya, adalah Bang Azhar. Iya, catatan kala itu emang gak lengkap. Aku keburu terkagum-kagum dengan para pemateri, juga ijah. Kenapa ijah? Iya, soalnya ijah yang jadi ketuplak BBT DINAMIK 9, dan pecah jah! Selamat!!
Jadi, menurut beliau menulis adalah modus. Yup yup. Modus untuk menyampaikan pandangan penulis, katanya. Dan seringnya memang modusin orang sih, kata aku. Menulis itu mengkomunikasikan nilai-nilai yang penulis yakini kepada pembacanya. Lalu katanya lagi, bikin buku itu harus mempengaruhi orang, kalau enggak, ya untuk apa? Untuk hal yang ini, ada pula yang beranggapan bahwa menulislah apa yang ingin kau tulis. Setuju, aku setuju keduanya. Menulis lah apa yang ingin kau tulis, dan menulis lah untuk kemudian bisa mempengaruhi orang lain. Sambil berdakwah, hobi pun tersalurkan haha. Dan ini yang khas dari Bang Azhar, menulis itu merapikan kenangan. Dan waktu ditanya tentang buku ja(t)uh nya, Bang Azhar bilang kita itu mengelola jatuh cinta, maka harus ada langkah tegas. Dan saat itu pula lah beliau bilang bahwa beliau mau nikah, haa, beliau sudah mengambil langkah tegas. Jadi sebenernya, ja(t)uh itu adalah "Setelah jatuh, aku memilih untuk jauh. Tapi jarak, sepertinya memang dicipta untuk dibuat luruh/
Baru sampai sini aja, aku masih ingat suasana Audit JICA Minggu siang waktu itu, uh.
Jatuh cinta itu energi yang membuat kita hidup. Eits, cinta gak melulu tentang aku dan kamu, cinta yang sejati adalah cinta padaNya, jadikanlah energi yang luarbiasa ketika kamu jatuh cinta. Semangat membara luar biasa. Cinta keluarga, sahabat, adik, semuanya. Jatuh cinta gak melulu tentang sakit hati kok haha.

Jadi, teruslah menulis, mencatat, hal apapun, agar kamu terbiasa bersyukur, berpikir. Jangan lupa diiringi membaca. Karena penulis yang baik, datang dari pembaca yang baik.

Semoga Allah ridha :)

Komentar