Sabtu Itu

Aku ingat Sabtu itu. Bersama rembulan tengah bulan, kita sama-sama menikmati 2 gelas jeruk dan 2 gelas strawberry. Entah akan berulang atau tidak, aku sangat bersyukur menemukanmu kala itu. Dan entah ini rahmat atau musibah, aku hanya berbaik sangka pada Allah.

Hari itu, aku diminta untuk bermuhasabah lebih dalam lagi pada diri sendiri. Terimakasih untuk mengingatkan aku akan banyak hal. Terutama ibu. Aku ingat kau bilang kau adalah anak yang paling disayang ibu, ibu akan tenang jika menelponmu. Sampai detik ini aku terharu mendengarnya, sungguh. Ibumu luar biasa beruntung, Allah mengkaruniainya seorang anak yang berbakti, baik hati, lagi luas ilmu, dan semangat juang yang tinggi. Amal yang tak pernah terputus itu, pasti tak akan pernah terputus. Doa anak sholeh, anak ibu. Aamiin.

Lalu aku ingat rumah. Ibu, ayah, teteh, opik.

"Menjadi sebaik-baiknya anak, sebaik-baiknya adik, sebaik-baiknya kakak, sebaik-baiknya manusia"
Semoga belum terlambat.

Kita, adalah apa yang kita pikirkan. Orang-orang yang kita temui adalah orang-orang yang kita pikirkan. Dan Allah adalah sesuai dengan prasangka hambaNya.

Komentar