Apa rasanya jadi kaum minoritas? Menjadi yang berbeda dari yang lainnya. Bagaimana caranya menjadi biasa padahal tidak? Bersikap biasa saja ditengah hal yang tak biasa.
Bagaimana rasanya menjadi wanita satu-satunya diantara 35 siswa lainnya?
Jika bukan karena cita-cita, mungkin aku tak akan ada disini, katanya. Menjadi wanita satu-satunya disini seperti punya fans, anak, peliharaan mungkin haha, disini, sebanyak 35 biji. Jauh dari rasa ketertarikan mungkin, setiap hari ketemu, yang itu-itu lagi. Enggak ngerasa paling cantik juga sih, karena toh mereka tetap bercerita tentang wanita satu-satunya di kelas yang lain, aku jadi si tampan nomor 36. Tapi aku tetap wanita. Kadang risih menjadi wanita satu-satunya di kelas. Aku tidak bisa membicarakan tas yang baru aku beli kemarin, di kelas. Aku tidak bisa jalan berdua di lorong mengeluarkan suara cekikikan ketika membicarakan Pak Anan yang sedang mengajar. Itu kadang. Seringnya aku nyaman disini. Mereka tau batasan dimensi persamaan dan perbedaan antara kaumku dan kaum mereka. Mereka memberiku ruang yang lebih ketika aku sedang pra menstruacy syndrome. Mereka yang membelaku ketika aku menangis karena hatiku tergores barang sedikit saja.
Menjadi kaum minoritas? Aku tetap memiliki pegangan tentang aku dan mereka yang berbeda, mungkin sederhananya kami saling menghormati. Dan saling menyayangi pasti, ya kan?
----
Harmonis dan sinergis.
Komentar
Posting Komentar