Tercidun

Jangan tanya tentang pengorbanan pada ku, apa lagi perjuangan, apa lagi keikhlasan. Tak sedikitpun kau bisa dapatkan dariku, sungguh. Kau yakin aku selalu memikirkanmu, menyisipkan namamu dalam doa setelah akhir sholatku? Tak, tak pernah sedikitpun. Tak pernah menyengaja memikirkanmu, menuliskannya dalam buku, lalu merencanakannya menjadi sebuah tindak nyata. Biar aku bilang aku mencintaimu, nyatanya aku lebih sering mengutukmu, menyerbasalahkan segala apapun yang telah kalian lakukan.

Jangan tanya tentang pengorbanan padaku. Aku tak pernah mau berlelah susah payah memikirkanmu yang bahkan sedikitpun tak pernah menghiraukanku. Saat aku bersiap pasang badang untuk menyuapimu, kau memintaku untuk mengunyahkan makanannya pula. Aku sangsi kau pernah memikirkanku barang sedetik tentang bagaimana kondisi ku saat ini.

Jangan tanya tentang perjuangan padaku. Aku benci menyengaja berbaik-baik mencarikan sebongkah berlian untukmu, yang berlian itu tak bernilai apa-apa untukmu. Tak pernah sedikitpun aku berkeliling untuk mencari berlian terbaik untukmu. Ketikapun aku mendapatkannya, akan aku teriakan, itu aku yang menemukannya. Dan ketika tidak, aku akan berteriak itu salahmu.

Jangan tanya tentang keikhlasan padaku. Di belakangmu, aku menuntut semua hak, bahkan yang bukan hak ku padamu. Hak atas apa-apa yang bahkan mungkin tidak aku lakukan. Aku tidak pernah melakukan ini semua secara cuma-cuma. Tidak.

---

Penyangkalan-penyangkalan yang bahkan aku sendiri tidak percaya memikirkannya. Bagaimana bisa aku tau tentang pengorbanan, perjuangan, hingga keikhlasan. Arti kata mencintai pun kadang aku ragu. Berlebihan kah atau tidak.

Jika ini berlebihan, Ya Rabb, aku ingin menyederhanakannya.

Bahkan penghargaan manusia aku anggap penghargaan yang paling berharga, padahal penghargaanMu tiada terdua.

Apa ini yang namanya terlalu-cinta-dunia?

Komentar