Refleksi

Seperti sedang menatap diri sendiri siang itu. Seperti sedang berbicara dengan diriku sendiri.

Memang, terkadang lelah menyerang. Kadang tak sadar indahnya hadiah dari perjuangan. Kadang godaan, terlalu asyik bermain menghampiri tanpa diusir sama sekali. Sampai kemudian, mundur jadi pelarian. Ah.

Untuk kali ini, ini semua tentangmu. Iya, kali ini, karena dulu-dulu, ini tentang ku. Baiklah.
Ini tentang mu yang mungkin mulai menyerah, mulai tak tentu arah, mulai 'ah, aku pulang saja.' Sadarkah ketika dalam kondisi yang kau bilang 'pemboykotan' itu adalah sebuah pembelajaran? Mungkin kita terlalu melangit. Sadarkah ketika dalam kondisi yang kau bilang 'diasingkan' itu adalah sebuah peringatan? Mungkin kita terlalu jauh.

Membaur tanpa melebur.

Masing-masing kita punya ideologi. Katakanlah kita idealis. Iya, aku juga kamu. karena pun dulu aku begitu. Merasa diboykot, diasingkan. Boleh saja kita idealis, harus malah. Apalagi jika ideologi nya berlandaskan Satu yang tiada dua, pertahankan. Tapi kadang, dunia gak sama seperti apa yang kita bayangkan. Ada saja rintangannya. Tapi itu seninya. Dalam berjuang, mungkin kita diminta untuk lebih kreatif, lebih sabar, lebih banyak merenung.

Mungkin mereka yang butuh kita ingatkan, maka jangan pergi.

Mungkin mereka yang perlu diberitahu, maka jangan pergi.

Atau mungkin, kita yang perlu rekreasi, maka jangan pergi.

Bertahanlah, berjuang tak sebercanda itu. Dan Allah tidak akan membiarkan kita seorang diri.

----

Sepanjang itu, sepertinya, aku sedang menasehati diri sendiri...

Komentar