Mulanya kami bicara tentang isu terhangat seputar dunia eksak, dunia ilmu pasti, dunia ratunya ilmu, matematika. Isu tentang 4x6. Ada yang masih ingat? Kasus ini cukup tenar di waktunya, cukup menjadi perhatian di kalangan dosen kampus juga, karena di beberapa mata kuliah, ini sempat dibahas. Tapi aku tidak akan membahas 4 kalinya 6 atau yang bersifat matematis, rasanya tak cakap.
Narasumber melemparkan lagi pertanyaan yang aku lemparkan, kepada ku, menurut kamu gimana? Dengan bahasa seadanya, ilmu seadanya, aku jawab berbeda antara 4x6 dan 6x4, narasumber ku tersenyum saja. Lalu narasumber ku bilang, ini bukan perkara benar atau salah. Karena jika mau menyalahkan gurunya, kamu punya alasan, pun jika ingin membenarkannya, juga sebaliknya yang akan kau lakukan pada sang kakak. "Saya lebih menyoroti ini pada sisi psikologis si anak," Psikologis katanya. Narasumber ku bercerita tentang tinta pulpen warna merah, tentang coretan di tugas siswa, tentang pencantuman skor nilai. "Siswa, kalau gak liat angka di tugasnya, gak bakal mau ngerjain lagi. Sebandel-bandelnya siswa, dia pasti perhatian sama tugasnya. Diperiksa atau enggak"
Narasumber ku bukanlah seseorang yang berasal dari ranah pendidikan, ini yang membuat aku makin tertarik. Ilmu murni yang beliau dapat, membawanya sejauh ini, bahkan masuk 5 besar guru terfavorit. "Khairunnas anfa'uhum linnas, saya harus bermanfaat buat orang lain," katanya. Beliau juga bilang, "jika ditanya tentang cinta pada pendidikan, saya tidak akan bicara cinta, karena masuk dunia matematika saja, saya tak pernah berencana, karena lagi-lagi," beliau menarik napas, "Allah punya rencana untuk kita, saya hanya menjalaninya saja, dan jadilah." Aku tersenyum menatap narasumber ku yang umurnya mungkin terpaut 7 sampai 10 tahun dengan ku.
Entah bagaimana dengan kalian, tapi narasumber ku memberiku banyak inspirasi, terlebih dengan keadaanku sekarang yang notabenenya sedang 'latihan profesi'. Aku, yang berlatarbelakangkan pendidikan, harusnya lebih banyak mengerti tentang siswa, dan perangkat yang membersamainya, karena toh, narasumber ku, yang bukan dari pendidikan, bisa sebegitu All Out nya. Pun aku seharusnya begitu, lebih dari itu.
Narasumber ku juga cerita tentang jenuh, tentang hal-hal yang tak terduga yang bisa terjadi. Tapi beliau bilang, dunia tempatnya berlelah-lelah, istirahatnya nanti di surga. Kemudian itu juga yang membuat aku rasanya ingin memeluknya di detik itu.
Barakallah bu Ina, sukses ngajarnya, sukses kuliah S2 nya. Semoga selalu dalam lindungan, rahmat, dan hidayah Allah SWT.
:)
Ratih Handayani,
23 Oktober 2014
Narasumber melemparkan lagi pertanyaan yang aku lemparkan, kepada ku, menurut kamu gimana? Dengan bahasa seadanya, ilmu seadanya, aku jawab berbeda antara 4x6 dan 6x4, narasumber ku tersenyum saja. Lalu narasumber ku bilang, ini bukan perkara benar atau salah. Karena jika mau menyalahkan gurunya, kamu punya alasan, pun jika ingin membenarkannya, juga sebaliknya yang akan kau lakukan pada sang kakak. "Saya lebih menyoroti ini pada sisi psikologis si anak," Psikologis katanya. Narasumber ku bercerita tentang tinta pulpen warna merah, tentang coretan di tugas siswa, tentang pencantuman skor nilai. "Siswa, kalau gak liat angka di tugasnya, gak bakal mau ngerjain lagi. Sebandel-bandelnya siswa, dia pasti perhatian sama tugasnya. Diperiksa atau enggak"
Narasumber ku bukanlah seseorang yang berasal dari ranah pendidikan, ini yang membuat aku makin tertarik. Ilmu murni yang beliau dapat, membawanya sejauh ini, bahkan masuk 5 besar guru terfavorit. "Khairunnas anfa'uhum linnas, saya harus bermanfaat buat orang lain," katanya. Beliau juga bilang, "jika ditanya tentang cinta pada pendidikan, saya tidak akan bicara cinta, karena masuk dunia matematika saja, saya tak pernah berencana, karena lagi-lagi," beliau menarik napas, "Allah punya rencana untuk kita, saya hanya menjalaninya saja, dan jadilah." Aku tersenyum menatap narasumber ku yang umurnya mungkin terpaut 7 sampai 10 tahun dengan ku.
Entah bagaimana dengan kalian, tapi narasumber ku memberiku banyak inspirasi, terlebih dengan keadaanku sekarang yang notabenenya sedang 'latihan profesi'. Aku, yang berlatarbelakangkan pendidikan, harusnya lebih banyak mengerti tentang siswa, dan perangkat yang membersamainya, karena toh, narasumber ku, yang bukan dari pendidikan, bisa sebegitu All Out nya. Pun aku seharusnya begitu, lebih dari itu.
Narasumber ku juga cerita tentang jenuh, tentang hal-hal yang tak terduga yang bisa terjadi. Tapi beliau bilang, dunia tempatnya berlelah-lelah, istirahatnya nanti di surga. Kemudian itu juga yang membuat aku rasanya ingin memeluknya di detik itu.
Barakallah bu Ina, sukses ngajarnya, sukses kuliah S2 nya. Semoga selalu dalam lindungan, rahmat, dan hidayah Allah SWT.
:)
Ratih Handayani,
23 Oktober 2014

Komentar
Posting Komentar