Tentang Beberapa Kalian dan Alasan

Katanya, hidup adalah pilihan.

Ketika dihadapkan pada 2-kalian, ah tapi ini bukan pilihan. Sungguh bukan. Karena ini bukan apple-to-apple. Ini bukan masalah pilih apel malang atau buah manggis. Ini masalah membutuhkan dan dibutuhkan, masalah pisau atau apel.

Cara belajar yang paling baik adalah sambil mengajarkannya. Katanya begitu.
Itu yang kemudian coba aku terapkan. Maka kenapa, aku pilih 2-kalian. Atau bahkan lebih, sehingga fokus pecah dan tak bisa jadi barisan jadwal yang rapi. Seperti belajar, begitu juga kebutuhan. Ketika membutuhkan, juga dibutuhkan. Mana yang dipilih duluan? Ah, ini bukan masalah pilihan. Karena kembali lagi, ini bukan apple-to-apple.
Harusnya begitu.

Tapi belum bisa. Belum. Sungguh. Kecintaan pada mereka yang membutuhkan, yang aku (mungkin) dibutuhkan, sangatlah luarbiasa. Beberapa saat yang lalu akhirnya aku ungkapkan pada seorang kawan. Begini kata ku: 'Disini, pernah kasih sesuatu berharga buat aku, bukan nilai IP, bukan hasil danus, bukan pelajaran kepenulisan jurnalistik, tapi lebih dari itu. Menemukan sesuatu bagian yang terkubur lama, dan akhirnya terpanggil. Semua perubahan ini, atas izin Allah, lewat kalian. Itulah kenapa, aku memilih disini lebih lama. Karena aku belum bisa balas apapun, yang sama, bahkan yang lebih dari yang pernah kalian kasih buat aku.' Ketika aku membutuhkan di 1-kalian, di 1-kalian yang lain (mungkin) aku dibutuhkan. Begitulah. Aku ingin disini, kemudian bisa berdiri, kemudian selalu mengingat Allah setiap saat, berlandaskan karena Allah dan mencari ridha Allah disetiap proker.

Itulah alasan, kenapa selalu pulang larut diakhir-akhir ini, yang sungguh, diri sendiri pun tak ingin. Itulah alasan, kenapa jarang hadir ke 1-kalian yang lainnya, bahkan mendahulukan agenda disini. Padahal sama-sama penting. Bukan masalah kuantitas, ini masalah kualitas waktu dan kebermanfaatan aku pikir. Di 1-kalian yang lainnya, sudah banyak orang-orang yang bisa mengkondisikan dirinya, menginfluens yang lainnya. Kalau disini, agak sedikit berbeda.

Begitu, alasan. Ratih memang nona-berjuta-alasan.

Semoga inti dari semua alasannya hanya karena Allah, Allah, dan Allah.
Alhamdulillah.

Komentar