Akankah

Baru saja, mungkin sekitar beberapa hari yang lalu, disaat semua sangat tak terkendali, disaat air mata berlaku menjadi kata, aku pernah berujar, lelaki ku kelak harus lah yang lebih tangguh dari ku, tak lebih lemah dari ku, dan di titik dimana kami benar-benar di bawah, lelaki ku yang harus bisa merecovery dirinya, lalu aku, kau harus membantu ku berdiri. Tapi tidak.

Tidak. Ternyata, bukan seperti itu seharusnya. Menurutku yang saat ini, bukan seperti apa yang aku paparkan sebelumnya, yang seharusnya. Kelak, jika sampai waktunya, rumah adalah tempat nyaman untuk sang kapten kembali. Nyawanya memang bukan di rumah, tapi rumah yang kemudian jadi alasan dia untuk pulang. Lalu surga.

Paham maksudku, ratih dimasa depan saat membaca ini? Lupakanlah kamu yang lemah, yang air mata nya pengganti kata. There's something that you have, tapi mungkin kamu lupa.

Lalu, akankah aku bertemu denganmu?

Entah, jalan masih sangat panjang, panjang sekali.

Komentar