Pilihannya, diri sendiri, atau orang lain?
Ideal ku menjawab, orang lain. Bukankah kita harus memikirkan kepentingan orang lain dulu daripada kepentingan diri sendiri?
Lalu yang lainnya berargumen, ketika kamu lapar dan hampir mati, ada roti, saat hendak kau gigit, ada yang lain juga yang kelaparan, maka mana yang kamu pilih? Ah, mungkin analogi ini terlalu sederhana.
Ada lagi yang lainnya berkata, kamu mau ngasih apa, kalau kamu sendiri gak punya apa-apa? Yang terbaik. Iya, apa?
Ada pula yang lainnya lagi, maka sebelum kamu membahagiakan orang lain, bahagiakan dulu dirimu, agar mudah dalam proses keberlanjutannya.
Lalu sampai di buku yang ini lagi, buku wajib katanya. Isinya: "Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain"
QS At-Tahrim: 6
Ideal ku menjawab, orang lain. Bukankah kita harus memikirkan kepentingan orang lain dulu daripada kepentingan diri sendiri?
Lalu yang lainnya berargumen, ketika kamu lapar dan hampir mati, ada roti, saat hendak kau gigit, ada yang lain juga yang kelaparan, maka mana yang kamu pilih? Ah, mungkin analogi ini terlalu sederhana.
Ada lagi yang lainnya berkata, kamu mau ngasih apa, kalau kamu sendiri gak punya apa-apa? Yang terbaik. Iya, apa?
Ada pula yang lainnya lagi, maka sebelum kamu membahagiakan orang lain, bahagiakan dulu dirimu, agar mudah dalam proses keberlanjutannya.
Lalu sampai di buku yang ini lagi, buku wajib katanya. Isinya: "Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain"
QS At-Tahrim: 6
Komentar
Posting Komentar