Mungkin, Kamulah Takdirku

Setelah hampir 2 minggu tidak bertemu, menyengaja tidak menghampiri, menjauhi segala kemungkinan, akhirnya kemarin dipertemukan. Di tempat yang ah, tidak mungkin aku bertemu dengan beliau. Tapi begitulah cintaNya, lewat apa saja.

Mungkin, kamulah takdirku.
Bertemu di kantin siang itu menanyakan kabarku, lalu pergi dan aku tertunduk. Lewat beberapa jam, kepulanganku dari perpustakaan, kita bertemu lagi di lobi. Lepas itu, usai salat ashar kita bertemu lagi di lorong. Cinta ini begitu indah. Menyemangati lewat jalan apa saja.

Mungkin, kamulah takdirku.
Skripsi yang tak kunjung disentuh, dan dosen pembimbing, takdirku selanjutnya yang harus aku temui sesegera mungkin dengan membawa progres. Masa depan memang harus dijemput, de.

Iya, masa depan memang harus dijemput. Dan juga, takdir selanjutnya.

Makasih pak, saya juga kangen ngobrol panjang-gak-penting-sekedar-curhat doang sama bapak.
:D

Komentar