"Dulu, aku bilang, aku gak mau kerjasama satu tim bareng kamu. Langkahnya pendek. Kamu gak boleh pulang malam"
"Dia banyak kegiatannya, mungkin bisa terabaikan."
Tergantung, tergantung posisi kamu sedang apa dan bagaimana ketika mendengar 2 pernyataan itu. Bisa jadi lagi biasa aja, atau lagi semangat, atau bahkan lagi jatuh. Dalam kondisi biasa aja, ucapan-ucapan itu akan berlalu tanpa kesan, dalam keadaan semangat, ucapan-ucapan itu bisa jadi bahan introspeksi, dan dalam keadaan jatuh, ucapan-ucapan itu bisa bikin makin ciut.
Pernah disuatu hari bilang sama salah satu adik, "Even banyak orang yang ragu sama kita, tidak lantas menjadikan itu nyata. Ada kalanya, keragu-raguan mereka harus kita bakar. Seperti kayu yang dibakar hasilnya jadi abu tapi memberikan panas dan mie pun bisa matang karenanya."
Kamu benar, ketika aku gak boleh pulang malam, akan aku maksimalkan di siang hari. Ketika aku banyak kegiatan, aku akan meminta hal yang lebih ringan agar tak mengabaikan, dan jika dipersilahkan untuk mundur, mungkin aku memilih untuk tidak mundur.
:)
"Dia banyak kegiatannya, mungkin bisa terabaikan."
Tergantung, tergantung posisi kamu sedang apa dan bagaimana ketika mendengar 2 pernyataan itu. Bisa jadi lagi biasa aja, atau lagi semangat, atau bahkan lagi jatuh. Dalam kondisi biasa aja, ucapan-ucapan itu akan berlalu tanpa kesan, dalam keadaan semangat, ucapan-ucapan itu bisa jadi bahan introspeksi, dan dalam keadaan jatuh, ucapan-ucapan itu bisa bikin makin ciut.
Pernah disuatu hari bilang sama salah satu adik, "Even banyak orang yang ragu sama kita, tidak lantas menjadikan itu nyata. Ada kalanya, keragu-raguan mereka harus kita bakar. Seperti kayu yang dibakar hasilnya jadi abu tapi memberikan panas dan mie pun bisa matang karenanya."
Kamu benar, ketika aku gak boleh pulang malam, akan aku maksimalkan di siang hari. Ketika aku banyak kegiatan, aku akan meminta hal yang lebih ringan agar tak mengabaikan, dan jika dipersilahkan untuk mundur, mungkin aku memilih untuk tidak mundur.
:)
Komentar
Posting Komentar