#OneWeekOneBook: Ayah...

Judul: Ayah... (Kisah Buya Hamka)
Penulis: Irfan Hamka
Penerbit: Republika
Tebal: 322 halaman

Siapa tak kenal Buya Hamka? Dengan quote-quote yang sedang marak tersebar di jejaring sosial, aku rasa masing-masing kita kenal dengan Buya Hamka.

Dalam buku ini, penulis yang merupakan anak kandung Buya menceritakan bagaimana Buya keseharaiannya, sebagai ayah, suami, ulama, sastrawan, sampai politisi. Buku ini memiliki nuansa sejarah Indonesia yang kental, makanya pas baca, aku sendiri agak hulang-huleng, lupa pelajaran waktu sekolah dulu hehehe. Tapi terimakasih, buku ini menjadi trigger tentang pelajaran sejarah dulu.

Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari buku ini. Dari bab 1 saja aku sudah diingatkan tentang "berbohong". Buya menyampaikan nasihatnya kepada Irfan, bahwa syarat menjadi seorang pembohong itu ada tiga, orang itu harus bermental baja; orang itu tidak pelupa; orang itu mampu menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong lainnya untuk menutupi kebohongannya. Bukan, bukan berarti mengajarkan sebagai seorang pembohong, tapi ah, tih, ayolah, jangan bohong karena kamu pelupa berat! T____T
Tau sekolah Al-Azhar? Itu garapannya Buya, lho! MasyaAllah, semoga pahala terus mengalir untuknya.

Buya yang seorang politisi tetap bersikukuh dengan ketauhidannya dan akidahnya. Berkali-kali penulis bilang
bahwa Buya memang tidak pernah main-main dan kompromi dengan urusan agama. Seperti saat Buya mengundurkan diri dari kementrian agama karena fatwanya mengharamkan mengucapakan selamat natal ditolak. See? Buya langsung mengundurkan diri karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

Belum lagi sosok Ummi (istri Buya) yang juga diceritakan oleh penulis. Ummi merupakan sosok yang qurrota'ayyun menurutku. Baik pekertinya, rajin silaturahim, menjadi panutan anak-anaknya, dan selalu menemani Buya. :") How sweet. Saat Buya diberikan amanah, antara memilih atau tidak, Ummi memberikan masukan yang memang sesuai dengan apa yang Buya harapkan. Sebagai pasangan untuk suaminya, Ummi sangat mengenal baik Buya. Mereka menikah saat Buya berumur 19 tahun dan Ummi berumur 16 tahun.

Ada lagi yang menjadi hal yang sangat mengesankan bagiku. Buya tidak pendendam. Buya pernah dipenjara oleh rezim Soekarno karena melawan PKI, tetapi ketika wafatnya Soekarno, Buya tetap menghadiri pemakamannya bahkan menjadi imam shalat jenazahnya.

Saat Buya dipenjara, Buya bahkan mampu menulis sebuah buku. Lah, ratih? skripsi aja belum kelar hehe.

Kiprah Buya diranah sastra tidak usah diragukan lagi. Buya sudah banyak menulis buku dengan berbagai genre, salah satunya adalah Di Bawah Lindungan Ka'bah yang dulu sempat menjadi tugas Bahasa Indonesia saat aku masih berusia SMP.

Aku mau mengutip salah dua kata-kata Buya kepada Irfan, tentang Ummi:
"Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah"
"Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat taubat terlebih dahulu"


----
Di pagi hari yang sendiri karena masih harus istirahat, dede jadi kangen ayah sama ibu.

Komentar