Dulu, pintar adalah kata sifat yang tabu bagiku. Aku tidak begitu yakin pentingnya sebuah 'pintar' bagi dunia ini. Ah, aku memang terlalu jauh untuk pintar. Aku kira, pintar hanya akibat dari rajin belajar, hanya berguna bagi si empunya, tidak ada pengaruhnya bagi lingkungan sekitar. Itulah mungkin kenapa, aku tidak terlalu banyak berpikir untuk pintar.
Sejak SD, aku tidak pernah mengejar peringkat kelas, meskipun terkadang aku iri pada orang-orang yang mendapat hadiah barang buku atau tempat pensil dari orang tuanya karena masuk peringkat kelas, atau bahkan mendapatkan piala karena juara cerdas cermat. Sampai kuliah sekarang, IPK tidak terlalu aku pentingkan. Aku tidak mengejar titel cumlaude saat aku lulus nanti.
Padahal, IPK bukan indikator seseorang pintar. Bahkan kuliah, pun bukan sebuah jaminan seseorang layak menyandang predikat pintar. Menurutku.
Pagi ini, aku diminta untuk merenung sekali lagi. Mendengar isu penerimaan siswa baru ditingkat sekolah menengah membuatku berpikir, apakah semua lulusan SMP bisa melanjutkan sekolah ke tingkat menengah?
Alhamdulillah, beruntung kita yang bisa melanjutkan sekolah menengah hingga sekolah tingkat tinggi, semoga ilmu kita bermanfaat, aamiin. Karena pasalnya, tidak semua orang bisa melanjutkan sekolah. Banyak sekali faktornya, bisa jadi karena finansial, kemampuan anak, motivasi anak, dan lain-lain.
Semenjak mengikuti matakuliah PLP di kampus, ternyata banyak sekali masalah pendidikan di Indonesia. Bahkan masalah itu terletak pada siswa. Seperti yang aku bilang tadi, ternyata ada saja siswa yang tidak melanjutkan sekolahnya. Faktornya? Juga seperti yang aku sebutkan tadi, finansial lah, kemampuan anak lah, motivasi anak lah, pergaulan anak lah. Yang padahal mungkin, sejak aku sekolah dulu, masalah-masalah seperti itu sudah muncul, namun aku tidak mengkhawatirkannya. Ah, memang aku tidak peka.
Kembali lagi.
Pintar. Tidak hanya berbicara tentang si empunya pintar. Banyak masalah yang bisa diselesaikan karena si pintar. Misal, seseorang yang pintar, tidak akan kebingungan mencari sekolah, memilih sekolah terbaik, bisa terfasilitasi kepintarannya hingga menjadi sebaik-baik pintar. Dengan pintar, yang kata indikatornya adalah nilai UN yang besar, siswa bisa masuk sekolah negeri yang memang dananya pun dibantu oleh pemerintah, tidak perlu banyak mengeluarkan dana. Menjauhkan dari masuk sekolah swasta yang dipegang oleh yayasan yang berarti dananya lebih besar. Membantu pengeluaran orang tua. Ternyata, pintar lebih dari sekedar mengangkat derajat si empunya, tapi bisa membantu secara finansial. MasyaAllah.
Seperti yang kita tau, dengan pintar seseorang bisa mencari pekerjaan, insyaAllah, rezeki Allah yang atur. Tapi, sebelum mendapatkan pekerjaan, ternyata pintarpun bisa mengurangi pengeluaran finansial.
Memang, pintar tidak hanya bicara tentang dunia. Bahkan, kita para pelaku dakwah pun harus pintar. Ah, harus itu mah. Dengan banyaknya berita berseliweran, ghazwul fikr yang semakin 'edan', mengharuskan kita, bukan hanya pelaku dakwah, bahkan seluruh umat Muslim di bumi ini harus pintar. Harus bisa memilah dan memilih, harus bisa menyampaikan berita yang baik dan benar.
Karena ya gitu, pintar, tidak hanya bicara tentang empunya, tapi lebih luas lagi. Bahkan seluruh isi bumi ini.
Sejak SD, aku tidak pernah mengejar peringkat kelas, meskipun terkadang aku iri pada orang-orang yang mendapat hadiah barang buku atau tempat pensil dari orang tuanya karena masuk peringkat kelas, atau bahkan mendapatkan piala karena juara cerdas cermat. Sampai kuliah sekarang, IPK tidak terlalu aku pentingkan. Aku tidak mengejar titel cumlaude saat aku lulus nanti.
Padahal, IPK bukan indikator seseorang pintar. Bahkan kuliah, pun bukan sebuah jaminan seseorang layak menyandang predikat pintar. Menurutku.
Pagi ini, aku diminta untuk merenung sekali lagi. Mendengar isu penerimaan siswa baru ditingkat sekolah menengah membuatku berpikir, apakah semua lulusan SMP bisa melanjutkan sekolah ke tingkat menengah?
Alhamdulillah, beruntung kita yang bisa melanjutkan sekolah menengah hingga sekolah tingkat tinggi, semoga ilmu kita bermanfaat, aamiin. Karena pasalnya, tidak semua orang bisa melanjutkan sekolah. Banyak sekali faktornya, bisa jadi karena finansial, kemampuan anak, motivasi anak, dan lain-lain.
Semenjak mengikuti matakuliah PLP di kampus, ternyata banyak sekali masalah pendidikan di Indonesia. Bahkan masalah itu terletak pada siswa. Seperti yang aku bilang tadi, ternyata ada saja siswa yang tidak melanjutkan sekolahnya. Faktornya? Juga seperti yang aku sebutkan tadi, finansial lah, kemampuan anak lah, motivasi anak lah, pergaulan anak lah. Yang padahal mungkin, sejak aku sekolah dulu, masalah-masalah seperti itu sudah muncul, namun aku tidak mengkhawatirkannya. Ah, memang aku tidak peka.
Kembali lagi.
Pintar. Tidak hanya berbicara tentang si empunya pintar. Banyak masalah yang bisa diselesaikan karena si pintar. Misal, seseorang yang pintar, tidak akan kebingungan mencari sekolah, memilih sekolah terbaik, bisa terfasilitasi kepintarannya hingga menjadi sebaik-baik pintar. Dengan pintar, yang kata indikatornya adalah nilai UN yang besar, siswa bisa masuk sekolah negeri yang memang dananya pun dibantu oleh pemerintah, tidak perlu banyak mengeluarkan dana. Menjauhkan dari masuk sekolah swasta yang dipegang oleh yayasan yang berarti dananya lebih besar. Membantu pengeluaran orang tua. Ternyata, pintar lebih dari sekedar mengangkat derajat si empunya, tapi bisa membantu secara finansial. MasyaAllah.
Seperti yang kita tau, dengan pintar seseorang bisa mencari pekerjaan, insyaAllah, rezeki Allah yang atur. Tapi, sebelum mendapatkan pekerjaan, ternyata pintarpun bisa mengurangi pengeluaran finansial.
Memang, pintar tidak hanya bicara tentang dunia. Bahkan, kita para pelaku dakwah pun harus pintar. Ah, harus itu mah. Dengan banyaknya berita berseliweran, ghazwul fikr yang semakin 'edan', mengharuskan kita, bukan hanya pelaku dakwah, bahkan seluruh umat Muslim di bumi ini harus pintar. Harus bisa memilah dan memilih, harus bisa menyampaikan berita yang baik dan benar.
Karena ya gitu, pintar, tidak hanya bicara tentang empunya, tapi lebih luas lagi. Bahkan seluruh isi bumi ini.
Komentar
Posting Komentar