Pagi ini, ibu mengajakku berkeliling untuk silaturahim mengunjungi adik-adik abah (read: kakek) di Ciwidey. Kenapa pagi? Karena, orang-orang disini sibuk sekali. Bukan, mereka bukan orang-orang berdasi menggunakan jas, menenteng tas kotak yang isinya laptop beserta berlembar-lembar data persiapan presentasi. Sibuk, bukan hanya milik mereka yang kekinian, yang di kota.
Di hari ke 3 lebaran ini, aku masih berpikir ini adalah hari libur, tapi tidak untuk warga sekitar sini. Wilayah ini memiliki pokok mata pencaharian berkebun. Hampir setiap rumah disini memiliki kebun, atau minimal mengurusi kebun milik juragan di kota. Ketahuilah, rezeki adalah apa yang kita gunakan, apa yang kita pakai, bukan hanya apa yang kita miliki. Kunjungan pertama adalah rumah salah satu kakak abah, dan ketika kita sampai di rumahnya, apa yang sedang beliau lakukan? Menyiram tanaman bawang. MasyaAllah. Lalu Enin (read: sebutan lain nenek, biasanya digunakan untuk sebutan adik atau kakak nenek atau kakek) menghampiri kami. Aku yakin, umur Enin lebih dari 60, tapi Enin masih kuat untuk mengurusi kebun di depan rumahnya.
"Enin rajin ya,"
"Ah, gak seberapa ini mah. Itu, yang sebelah mah dari jam 2 udah pergi nyiram"
Apa? Jam 2 pagi? Di keadaan Ciwidey yang dinginnya tidak terobati hanya dengan memakai satu lapis selimut ini, orang-orang sudah berkeliaran jam 2 pagi untuk berkebun. Ya, begitulah. Katanya, apalagi yang harus dilakukan selain pergi berkebun. Meskipun musim libur, berkebun tidak berarti libur, apalagi dengan kemarau panjang yang tidak menghadirkan hujan selama 1 bulan kemarin, kebun harus lebih sering diperhatikan.
Lalu aku dan ibu melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu adik Abah, dan ternyata, "Sudah pergi ke kebun teh," sahut tetangganya. Aku terdiam. Kebun teh? Setahuku, daerah sini hanya berkebun stroberi dan bawang saja, ada juga kentang, tapi itu harus naik ke atas lagi. Dan kebun teh? Ya, kebun teh, lebih ke atas lagi dari perkebunan kentang. MasyaAllah, bahkan dengan usia yang tak muda lagi, dengan cucu yang sudah mencapai belasan, anak yang sudah merantau ke kota, Enin-enin disini masih saja berkebun, bahkan yang jauh sekalipun. Entah itu kebunnya atau kebun orang lain, tapi kegigihan Enin-enin disini luarbiasa.
"Tanggung, satu lagi ya, ke rumah Aki"
Di perjalanan menuju rumah Aki keadaan sekitar sudah ramai. Orang-orang sudah mulai menimbang hasil panen. Di perjalanan ini aku menemui bandar wortel dan stroberi. Eh, ini masih suasana lebaran kan? Sesampainya di rumah Aki, kami hanya menemui Enin (istrinya Aki). Ketika ditanya Aki kemana, Enin bilang Aki sudah berkebun sejak subuh.
"Nunggu orang Bandung ternyata belum datang-datang, jadi lebih baik ke kebun dulu"
Sungguh, orang-orang disini sibuk sekali.
Ah iya, ada satu hal yang belum aku ceritakan. Meskipun sibuk berkebun, mereka masih bisa untuk membuat kue lho. Tidak hanya kue, bahkan ranginang, kue kembang goyang, rata-rata mereka membuatnya sendiri. Setiap berkunjung ke rumah saudara Abah di Ciwidey, keadaan rumahnya seperti sedang hajatan, segala ada.
Jadi, di dunia ini memang tidak ada liburnya, tidak ada istirahatnya. MasyaAllah :")
Barakallah untuk semua orang yang berjuang untuk meraih surgaNya.
Mari bersibuk-sibuk di lahan garapan ini, semoga kita panen berkah!
Di hari ke 3 lebaran ini, aku masih berpikir ini adalah hari libur, tapi tidak untuk warga sekitar sini. Wilayah ini memiliki pokok mata pencaharian berkebun. Hampir setiap rumah disini memiliki kebun, atau minimal mengurusi kebun milik juragan di kota. Ketahuilah, rezeki adalah apa yang kita gunakan, apa yang kita pakai, bukan hanya apa yang kita miliki. Kunjungan pertama adalah rumah salah satu kakak abah, dan ketika kita sampai di rumahnya, apa yang sedang beliau lakukan? Menyiram tanaman bawang. MasyaAllah. Lalu Enin (read: sebutan lain nenek, biasanya digunakan untuk sebutan adik atau kakak nenek atau kakek) menghampiri kami. Aku yakin, umur Enin lebih dari 60, tapi Enin masih kuat untuk mengurusi kebun di depan rumahnya.
"Enin rajin ya,"
"Ah, gak seberapa ini mah. Itu, yang sebelah mah dari jam 2 udah pergi nyiram"
Apa? Jam 2 pagi? Di keadaan Ciwidey yang dinginnya tidak terobati hanya dengan memakai satu lapis selimut ini, orang-orang sudah berkeliaran jam 2 pagi untuk berkebun. Ya, begitulah. Katanya, apalagi yang harus dilakukan selain pergi berkebun. Meskipun musim libur, berkebun tidak berarti libur, apalagi dengan kemarau panjang yang tidak menghadirkan hujan selama 1 bulan kemarin, kebun harus lebih sering diperhatikan.
Lalu aku dan ibu melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu adik Abah, dan ternyata, "Sudah pergi ke kebun teh," sahut tetangganya. Aku terdiam. Kebun teh? Setahuku, daerah sini hanya berkebun stroberi dan bawang saja, ada juga kentang, tapi itu harus naik ke atas lagi. Dan kebun teh? Ya, kebun teh, lebih ke atas lagi dari perkebunan kentang. MasyaAllah, bahkan dengan usia yang tak muda lagi, dengan cucu yang sudah mencapai belasan, anak yang sudah merantau ke kota, Enin-enin disini masih saja berkebun, bahkan yang jauh sekalipun. Entah itu kebunnya atau kebun orang lain, tapi kegigihan Enin-enin disini luarbiasa.
"Tanggung, satu lagi ya, ke rumah Aki"
Di perjalanan menuju rumah Aki keadaan sekitar sudah ramai. Orang-orang sudah mulai menimbang hasil panen. Di perjalanan ini aku menemui bandar wortel dan stroberi. Eh, ini masih suasana lebaran kan? Sesampainya di rumah Aki, kami hanya menemui Enin (istrinya Aki). Ketika ditanya Aki kemana, Enin bilang Aki sudah berkebun sejak subuh.
"Nunggu orang Bandung ternyata belum datang-datang, jadi lebih baik ke kebun dulu"
Sungguh, orang-orang disini sibuk sekali.
Ah iya, ada satu hal yang belum aku ceritakan. Meskipun sibuk berkebun, mereka masih bisa untuk membuat kue lho. Tidak hanya kue, bahkan ranginang, kue kembang goyang, rata-rata mereka membuatnya sendiri. Setiap berkunjung ke rumah saudara Abah di Ciwidey, keadaan rumahnya seperti sedang hajatan, segala ada.
Jadi, di dunia ini memang tidak ada liburnya, tidak ada istirahatnya. MasyaAllah :")
Barakallah untuk semua orang yang berjuang untuk meraih surgaNya.
Mari bersibuk-sibuk di lahan garapan ini, semoga kita panen berkah!
Komentar
Posting Komentar