Ibarat membaca puisi atau lirik lagu, aku sebagai orang awam yang tidak paham atas teori menulis puisi hanya bisa merasakannya pada saat membaca puisi atau menyanyikan lagu tersebut. Bila ada akhiran yang tidak sama, aku rasa itu kurang pas, atau terkesan memaksakan. Beberapa orang bilang, itu ritme.
Ritme. Dalam bahasaku kemudian aku menerjemahkan sebagai urutan langkah untuk mencapai sebuah atau sesuatu, entah apapun itu.
Beberapa orang mengeluh, ‘belum nemu ritmenya,’ atau ‘ritmenya belum pas.’ Lalu bagaimana dengan aku?
Bersama dengan definisi yang belum aku temukan secara jelas, aku pun mulai mencari-cari ritme untuk perjalanan hidupku. Katanya, kalau ritmenya pas dan sesuai, perjalanan hidupmu akan maju, akan mencapai titik temu. Tidak akan kehausan ataupun lelah berkepanjangan.
Sepanjang hari perjalanan hidupku, aku mencari ritme itu. Terkadang aku pergi pagi pulang maghrib, atau aku memilih pergi siang pulang petang, atau bahkan tidak keluar rumah sama sekali. Hal itu dilakukan, hanya dalam rangka mencari ritmeku.
Mm, sudah hampir 22 tahun, seharusnya aku bisa menentukan ritmeku yang sesuai. Tidak hanya satu ritme, tapi beberapa ritme yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga tidak ada hal yang hilang atau ditinggalkan.
Ritmeku. Menurutmu, apa ritmeku?
Menurutku, ritmeku adalah pergi pagi pulang maghrib. Itu cukup untuk me-recover kebutuhanku secara standar. Sosial, sains, dan agama ku terisi disitu, bahkan aspek keluargaku juga tidak hilang. Mungkin seharusnya memang begitu. Meski terkadang perlu juga untuk pergi siang pulang petang. Atau bahkan tidak pergi sama sekali.
Ritme: Pergi pagi pulang maghrib.
Komentar
Posting Komentar