Katanya, pemimpin itu cerminan warga yang dipimpinnya. Begitu juga dengan warga, yang merupakan cerminan dari pemimpin yang memimpinnya.
Sebutlah aku, seorang pria muda yang dipilih untuk memimpin sebuah kelompok belajar kecil. Aku memahami bahwa amanah tidak boleh diminta dan tidak boleh ditolak, hal itu aku pegang sampai sekarang, sehingga aku tidak pernah mendambakan sebuah amanah apapun, sampai amanah itu datang karena Allah yang pilihkan. Aku menerimanya dengan syukur dan sabar.
Hingga suatu hari tiba salah satu anggota ku yang menghilang, sebut saja namanya Genta. Aku menunggunya hingga kembali datang, tapi dia tak kunjung pulang. Lalu aku menjemputnya di halte bis tempat dia biasa menghabiskan waktu menunggu bis. Ternyata dia sedang menunggu bis terakhir. Tidak biasanya. Aku tanya, ada apa. Dia hanya duduk bergeming. Saat bisa terakhir datang, dia pergi dengan berucap salam.
Sudah 2 hari aku tidak menemuinya. Dalam 2 hari itu juga aku tidak menyengajakan diri untuk menemuinya, urusanku banyak. Saking banyaknya urusanku, aku lupa dengan tilawah quran, aku menjadi golongan anak masbuk-ers, bahkan untuk shalat Shubuh. 2 hari yang menyesakkan.
Sampai pada hari ketiga, aku diberi kabar lagi, kini Genta sudah ada di kota seberang. Aku kaget. Lalu aku segera memesan tiket kereta untuk bertemu dengannya. Dan kami bertemu di stasiun, ternyata dia hendak pulang. Akhirnya aku memesan tiket pulang bersama dengan Genta.
Diperjalanan Genta cerita, “Amalan yaumi ku berantakan,” Gen? Kok? Kok sama?! “Aku terpecah fokus. Aku tidak bisa menyesuaikan waktu ku. Aku yang baru ditawari posisi baru di klub football merasa sulit beradaptasi dengan tim.” Genta bercanda! Aku tidak membalas kata-katanya yang singkat dan menusuk. Aku terdiam sejenak dan memilih menundukan kepalaku. Apa-apa yang Genta katakan seperti sedang membicarakanku. Aku yang hampir 3 bulan melupakan ruang belajar untuk anak-anak di rumahku karena aku terpecah fokus dengan kelompok belajar di kampus. Kemudian posisiku sebagai sekjen yang dengan sengaja aku tinggalkan karena budaya disana jauh berbeda dengan kebiasaanku. Ah, Genta, kau ini.
Aku mengangkat kepalaku, menoleh padanya yang sedang menahan air mata yang keluar sedikit-demi-sedikit.
Genta, kau lebih kuat dari yang kau bayangkan. Dan tolong, maafkan aku.
teh :"
BalasHapusono opo nad?
Hapus