Judul Buku: Api Tauhid
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Tebal: 587 halaman.
"Yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri"
Novel ini berkisahkan tentang perjalanan liburan 6 pemuda ke Turki, di dalam perjalanannya diceritakan tentang sejarah terkait dengan tempat-tempat yang dikunjungi di perjalanan tersebut, dan tokoh ternama sepanjang masa, Badiuzzaman Said Nursi.
---
Novel sejarah pertama yang betah dibaca sampai habis. Alhamdulillah. Tapi jelas, ini gak habis dibaca dalam seminggu. Ditengah pasang surutnya minat baca, memaksakan diri untuk membaca buku ini dan akhirnya tamat.
Buku ini bercerita tentang sejarah Badiuzzaman Said Nursi. Sejak kelahirannya, mm, bahkan sejak pertemuan kedua orangtuanya. Makinlah yakin bahwa kebaikan pasti berawal dari kebaikan pula. (eh gak boleh spoiler ya? Hehe, gak akan diceritain dalemnya kek gimana sih, cuma ingin berbagi ibroh yang bisa saya ambil dari buku ini). Pasang surut perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam menjaga keimanan saudara-saudaranya di Turki, tapi lagi-lagi Badiuzzaman Said Nursi selalu yakin akan pertolongan Allah. Berkali-kali beliau masuk penjara dan dikenakan hukuman bahkan hingga hukuman mati, tapi Allah belum menakdirkannya untuk menyudahi perjuangannya. Meski dalam penjara, karya-karyanya tak pernah mati, hingga lahirlah Risalah Nur.
Penulis yang baik, lahir dari pembaca yang baik. Tentu saja. Sejak kecil, Badiuzzaman Said Nursi sudah terbiasa membaca dan mencari ilmu, bahkan diumur (kalau tidak salah) lima belas tahun, beliau sudah menghabiskan puluhan kitab. MasyaAllah. Semoga kita semua berkesempatan untuk melahirkan karya-karya terbaik, tentu dilakukan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Adapula yang bisa aku ambil hikmah selajutnya adalah, Badiuzzaman Said Nursi tidak hanya sibuk belajar tentang agama, tapi beliau juga belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, disebutkan bahwa, 'Agama adalah penerang hati, sedangkan ilmu pengetahuan peradaban adalah penerang akal.' Dengan status sekarang sebagai pelajar, rasanya tidak ada alasan untuk berhenti mencari dan menggunakan ilmu kita, dalam bidang apapun, tentunya untuk beribadah. Pada titik ini, tiba-tiba inget skripsi. ...
Meski sudah difitnah berkali-kali, bagaimanapun caranya, tetap saja Badiuzzaman Said Nursi adalah Badiuzzaman Said Nursi, keajaiban zaman. Dalam rumah tahanannnya, dimanapun itu, selalu saja ada orang yang datang untuk belajar kepadanya dan menjadi muridnya. MasyaAllah. Tentu, jika bukan karena kehendak Allah, hal itu tidak akan terjadi. Badiuzzaman Said Nursi menjadi penerang dimanapun keberadaannya. Emas tetaplah emas, mau dimanapun, tetap jadi emas.
Setelah Muhammad Al Fatih, aku iri dengan Badiuzzaman Said Nursi, diumur mereka yang masih muda, pencapaiannya luar biasa. Orientasinya tiada lain hanyalah karena Allah. Karena pengadilan yang tidak bisa dihindari adalah pengadilan hari akhir.
Barakallahu.
Anw, buku ini sekarang bentuknya sudah tidak semulus diawal pembukaan plastiknya, soalnya udah kena hujan berkali-kali, hehe. Feel free untuk teman-teman yang mau meminjamnya, bisa cari kontak saya. :)
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika
Tebal: 587 halaman.
"Yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri"
Novel ini berkisahkan tentang perjalanan liburan 6 pemuda ke Turki, di dalam perjalanannya diceritakan tentang sejarah terkait dengan tempat-tempat yang dikunjungi di perjalanan tersebut, dan tokoh ternama sepanjang masa, Badiuzzaman Said Nursi.
---
Novel sejarah pertama yang betah dibaca sampai habis. Alhamdulillah. Tapi jelas, ini gak habis dibaca dalam seminggu. Ditengah pasang surutnya minat baca, memaksakan diri untuk membaca buku ini dan akhirnya tamat.
Buku ini bercerita tentang sejarah Badiuzzaman Said Nursi. Sejak kelahirannya, mm, bahkan sejak pertemuan kedua orangtuanya. Makinlah yakin bahwa kebaikan pasti berawal dari kebaikan pula. (eh gak boleh spoiler ya? Hehe, gak akan diceritain dalemnya kek gimana sih, cuma ingin berbagi ibroh yang bisa saya ambil dari buku ini). Pasang surut perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam menjaga keimanan saudara-saudaranya di Turki, tapi lagi-lagi Badiuzzaman Said Nursi selalu yakin akan pertolongan Allah. Berkali-kali beliau masuk penjara dan dikenakan hukuman bahkan hingga hukuman mati, tapi Allah belum menakdirkannya untuk menyudahi perjuangannya. Meski dalam penjara, karya-karyanya tak pernah mati, hingga lahirlah Risalah Nur.
Penulis yang baik, lahir dari pembaca yang baik. Tentu saja. Sejak kecil, Badiuzzaman Said Nursi sudah terbiasa membaca dan mencari ilmu, bahkan diumur (kalau tidak salah) lima belas tahun, beliau sudah menghabiskan puluhan kitab. MasyaAllah. Semoga kita semua berkesempatan untuk melahirkan karya-karya terbaik, tentu dilakukan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Adapula yang bisa aku ambil hikmah selajutnya adalah, Badiuzzaman Said Nursi tidak hanya sibuk belajar tentang agama, tapi beliau juga belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, disebutkan bahwa, 'Agama adalah penerang hati, sedangkan ilmu pengetahuan peradaban adalah penerang akal.' Dengan status sekarang sebagai pelajar, rasanya tidak ada alasan untuk berhenti mencari dan menggunakan ilmu kita, dalam bidang apapun, tentunya untuk beribadah. Pada titik ini, tiba-tiba inget skripsi. ...
Meski sudah difitnah berkali-kali, bagaimanapun caranya, tetap saja Badiuzzaman Said Nursi adalah Badiuzzaman Said Nursi, keajaiban zaman. Dalam rumah tahanannnya, dimanapun itu, selalu saja ada orang yang datang untuk belajar kepadanya dan menjadi muridnya. MasyaAllah. Tentu, jika bukan karena kehendak Allah, hal itu tidak akan terjadi. Badiuzzaman Said Nursi menjadi penerang dimanapun keberadaannya. Emas tetaplah emas, mau dimanapun, tetap jadi emas.
Setelah Muhammad Al Fatih, aku iri dengan Badiuzzaman Said Nursi, diumur mereka yang masih muda, pencapaiannya luar biasa. Orientasinya tiada lain hanyalah karena Allah. Karena pengadilan yang tidak bisa dihindari adalah pengadilan hari akhir.
Barakallahu.
Anw, buku ini sekarang bentuknya sudah tidak semulus diawal pembukaan plastiknya, soalnya udah kena hujan berkali-kali, hehe. Feel free untuk teman-teman yang mau meminjamnya, bisa cari kontak saya. :)
Komentar
Posting Komentar