Curhat-Banget (2)

Hari ini, berasa sinetron. Dari sejak duduk di bangku kuliah, baru kali ini ngerasain kenalan sama orang baru di kantin perpus. Such a sweet things. Dibalik berasa sinetron, obrolan kami, lebih dari sekedar skenario sinetron.

Aku yang berencana motokopi buku yang cuma beberapa lembar, akhirnya memutuskan untuk memecah uang menjadi lebih kecil, karena di fotokopian perpus biasanya gak ada uang kecil untuk kembalian, dan emang belum makan siang juga sih, karena lupa gak bawa bekel dan niatnya mau ngirit. Beli bacang, kemudian duduk. Sudah biasa merasakan rutinitas ke kampus sendirian, ditambah teman-teman yang sedang menyiapkan sidang, ijah yang sedang uas, dan hendra yang lagi jalan-jalan, alhasil sendiri aja.
Lalu datang seorang teteh, memohonkan dirinya untuk duduk satu meja denganku. Tak masalah pikirku, toh ini kan tempat umum. Aku tersenyum mengangguk. Saat ku buka bungkus bacangku, tanganku kotor sementara handphone ku tak berhenti memberikan notifikasi terkait acara hari Ahad. Duh. Aku langsung merengkuh rok bagian bawahku, tentu untuk membersihkan tangan. Ketika tanganku belum sampai, tetehnya menyodorkan ku tisu, 'Nih.' katanya. Terimakasih teh. Kami asyik dengan gadget masing-masing. Tak lama beliau membuka pembicaraan,
'Prodi apa?'
'ilkom teh. teteh S2?'
'iya. saya ambil pendidikan biologi'
masya Allah.
Teteh (yang aku lupa namanya) ini sedang berada di semester 3, sedang menyusun thesis nya. Aku senyum-senyum sendiri. Pasti Allah sudah mempersiapkan pertemuan ini.
So, sudah pasti, obrolan kami adalah tentang tugas akhir. Tetehnya cerita tentang skripsi S1 nya. Beliau kuliah di jurusan yang linear dengan S1 nya dulu, di Kalimantan. Aku suka amaze sama orang-orang luar yang bela-belain ke Bandung untuk kuliah di kampus ini. Hebat berarti. Beberapa hal yang aku ingat sampai sekarang tentang obrolan dengan tetehnya:

"Orangtua itu, gak pernah salah de. Kalaupun mereka salah, pasti itu karena keterbatasan mereka. Entah itu ilmu atau pengalaman. Ridhallahi fi ridhal walidaini. Teteh bisa kesini, sekolah lagi, itu pasti karena ridha Allah yang itu juga dari ridha orang tua. Dulu waktu teteh S1 semester 3 teteh gak mau lho kuliah di jurusan ini, sampai-sampai setiap pulang selalu lemparing tugas laporan di depan rumah haha. Tapi ya gitu, sekarang tetap berjalan, itu karena ridha orang tua." FYI, orangtua tetehnya bukanlah orangtua yang bertitel tinggi, ternyata orangtuanya gak sampai lulus sekolah, tapi dari ke 3 anaknya, cuma teteh yang sekolah di Indonesia. "Kakak saya kuliah di Kairo, adik saya di Malaysia. Adik saya itu bedanya cuma 3 tahun sama saya, tapi dia akselerasi waktu SMA nya dulu."

"Cobain untuk nulis minimal satu baris setiap kamu buka laptop. Tapi kalau belum mau nulis, coba coret-coret dibuku. Nih, saya ini mahasiswa S2, tapi saya masih suka nulis di buku tulis kayak gini kok. Saya emang gak pinter, makanya suka lupa, dan makanya perlu buku hehe."

"Orangtua itu, pasti sedih liat kamu begini. Bukan malasnya. Tapi kamu seperti terbebani dengan tugas kamu ini. Mereka sayang sama kamu, makanya kepingin kamu cepet beresin kuliahnya, biar kamu gak terbebani. Biar kalau mau ke Jogja tinggal pergi tanpa mikirin bimbingan, kalau mau ke Lombok tinggal ke Lombok lah tanpa mikirin penelitian." Hehe, teh, saya gak akan ke Jogja atau ke Lombok, saya mau nikah dulu sebelum kesana *lho.

"Ayo, kita ketemu di gelombang 2 ya."

Kami berpisah, aku tak sempat memeluknya, keburu malu, nangis ingusan soalnya hehe.
Alhamdulillah. Barakallah teh :)

Komentar

  1. Hiks... gitu ya, padahal aku suka *nyut zbl* kalo orangtua nanyain skripsi... hiks... *peluk ibu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pas dibilangin gitu sama tetehnya aja sampai berderai ne :"

      Hapus

Posting Komentar