Mereka yang menetapkan sains sebagai ilmu pasti merupakan mereka yang bingung. Mengatakan sains sebagai salah satu tolak ukur yang mutlak, tapi sains itu sendiri memiliki nilai tentatif yang dapat berubah sewaktu-waktu (nahlho?!)
Sains dalam Islam berkembang karena kebutuhan umat untuk beribadah. Alam dan fenomenanya memiliki nilai religius dalam sains Islam.
Orang yang memiliki banyak ilmu, bisa menghubungkan sesuatu dengan hal yang lainnya, paham dengan makna dari sesuatu tersebut. Belum menjadi ilmu, ketika kita hanya sekedar tau. Misal kursi. Belum dikatakan kita memiliki ilmu tentang kursi ketika kita sendiri tidak tau apa gunanya kursi itu. Misal lagi, anak kecil yang dikasih uang 100.000, apa yang akan dia lakukan? Mungkin anak kecil itu akan menggigitnya dan mengira itu adalah permen. Kenapa? Karena anak kecil belum punya ilmu tentang uang yang bisa ia guanakan untuk membeli permen.
Jadi, ilmu apa yang sudah kamu dapatkan?
Alam akan makin mendekatkan kita pada Allah. Memikirkan alam bukan berarti memikirkan alam itu saja, tetapi memikirkan makna di dalamnya. Bagaimana bisa alam yang sebegini tertatanya bisa ada, tentu bukan karena gravitasi atau dengan sendirinya, tapi karena ada Sang Pencipta, itulah Allah SWT.
Tujuan sains bukan HANYA DEMI kepentingan praktis, tapi yang utama adalah mengenal Allah dan menunaikan amanahNya.
Makna Ilmu: Sampainya makna kepada jiwa atau sampainya jiwa kepada makna sesuatu itu (Al Attas).
Ratih Handayani
Kuliah Peradaban, 5 Maret 2016

Komentar
Posting Komentar