Karena setiap hari kita belajar. Setuju banget!
Kehidupan pasca kampus tidak menjadikan aktivitas belajar menjadi berhenti begitu saja. Banyak pilihan untuk dipilih sebagai kehidupan pasca kampus. Yang saya tahu, pilihannya ada bekerja, kuliah lanjut, atau menikah. Mungkin masih ada pilihan yang lain, tapi pastinya, semuanya adalah media untuk belajar.
Pun saat menikah. Banyak hal yang dipelajari saat menikah. Meskipun kamu adalah orang yang paling pintar di kampusmu, saat menikah pasti kamu akan mempelajari hal-hal baru. Juga aku. Maksudnya, apalagi aku. Bukan orang yang paling pintar, bukan orang hebat juga. Menikah adalah pelajaran hidup luar biasa.
Satu pelajaran yang ingin aku ceritakan adalah perihal memasak.
Sebagai anak rumahan, sebelum menikah aku tidak pernah pergi jauh dari kota Bandung, lebih dari satu minggu. Jadi, urusan perut aku tidak pernah khawatir. Toh ada ibu, tinggal tunggu ibu masak apa. Lagian, masakan ibu selalu enak kok. Atau beli ke tempat makan, kan uangnya selalu dikasih sama ibu kalau mau beli. Tapi itu ketika status nya masih sebagai anak.
Sekarang, setelah menikah, dengan status sebagai istri, rasanya luar biasa. Bukan sebuah kewajiban memang memasakan makanan untuk suami, tapi rasanya ingin memberikan sesuatu untuk suami. Bagi para istri, pasti rasanya menyenangkan jika makanan dihabiskan oleh suami. Aku juga merasakan hal seperti itu!
Sampai suatu hari, aku kehabisan ide untuk memasak. "Masak apa ya?" Pengetahuan ku tentang dapur minim sekali. Aku ingat masakan pertamaku untuk suami, telur dan tomat (yang juga resepnya aku dapat dari youtube). Bisa saja aku membeli sesuatu untuk dimakan dari tempat makan, tapi kan, sekarang pengelolaan uang aku yang pegang, amanah besar untuk memegang uang rumah tangga. Ya, mungkin mirip-mirip dengan tugasnya bendahara di organisasi. Bagian ini juga masih jadi pr untuk aku sebagai istri.
Aku sampai harus meminta apps rujukan dari teman-teman jurusan untuk resep masakan. Tapi akhirnya, aku memasak apa yang ada di dapur. "ini apa ya, apa ajalah yang penting bisa dimakan"
Suami selalu mengingatkan bahwa ladang jihad istri ada di dapur salah satunya. Menyajikan makanan bergizi untuk keluarganya yang beraktivitas perang di luar rumah. Semoga apa-apa yang ummi masak bisa memberikan semangat untuk anggota keluarga beraktivitas di luar ya.
Barakallaah.
Kehidupan pasca kampus tidak menjadikan aktivitas belajar menjadi berhenti begitu saja. Banyak pilihan untuk dipilih sebagai kehidupan pasca kampus. Yang saya tahu, pilihannya ada bekerja, kuliah lanjut, atau menikah. Mungkin masih ada pilihan yang lain, tapi pastinya, semuanya adalah media untuk belajar.
Pun saat menikah. Banyak hal yang dipelajari saat menikah. Meskipun kamu adalah orang yang paling pintar di kampusmu, saat menikah pasti kamu akan mempelajari hal-hal baru. Juga aku. Maksudnya, apalagi aku. Bukan orang yang paling pintar, bukan orang hebat juga. Menikah adalah pelajaran hidup luar biasa.
Satu pelajaran yang ingin aku ceritakan adalah perihal memasak.
Sebagai anak rumahan, sebelum menikah aku tidak pernah pergi jauh dari kota Bandung, lebih dari satu minggu. Jadi, urusan perut aku tidak pernah khawatir. Toh ada ibu, tinggal tunggu ibu masak apa. Lagian, masakan ibu selalu enak kok. Atau beli ke tempat makan, kan uangnya selalu dikasih sama ibu kalau mau beli. Tapi itu ketika status nya masih sebagai anak.
Sekarang, setelah menikah, dengan status sebagai istri, rasanya luar biasa. Bukan sebuah kewajiban memang memasakan makanan untuk suami, tapi rasanya ingin memberikan sesuatu untuk suami. Bagi para istri, pasti rasanya menyenangkan jika makanan dihabiskan oleh suami. Aku juga merasakan hal seperti itu!
Sampai suatu hari, aku kehabisan ide untuk memasak. "Masak apa ya?" Pengetahuan ku tentang dapur minim sekali. Aku ingat masakan pertamaku untuk suami, telur dan tomat (yang juga resepnya aku dapat dari youtube). Bisa saja aku membeli sesuatu untuk dimakan dari tempat makan, tapi kan, sekarang pengelolaan uang aku yang pegang, amanah besar untuk memegang uang rumah tangga. Ya, mungkin mirip-mirip dengan tugasnya bendahara di organisasi. Bagian ini juga masih jadi pr untuk aku sebagai istri.
Aku sampai harus meminta apps rujukan dari teman-teman jurusan untuk resep masakan. Tapi akhirnya, aku memasak apa yang ada di dapur. "ini apa ya, apa ajalah yang penting bisa dimakan"
Suami selalu mengingatkan bahwa ladang jihad istri ada di dapur salah satunya. Menyajikan makanan bergizi untuk keluarganya yang beraktivitas perang di luar rumah. Semoga apa-apa yang ummi masak bisa memberikan semangat untuk anggota keluarga beraktivitas di luar ya.
Barakallaah.
Komentar
Posting Komentar