Terbaik

Setiap orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik, jadi yang terbaik, semuanya yang terbaik.

Bahkan untuk hal-hal yang belum terjadi atau akan terjadi, kita pasti merencanakan yang terbaik. Seperti mempersiapkan generasi terbaik.
Masih tipikel orang yang selfish, apa-apa harus enaknya sendiri, gak peduli orang gimana. Misal, bahkan sampai saat ini saya masih makan makanan pedes meski sudah dapat warning dari Allah dikasih ujian wasir. Yah, yang penting enak lah pedesnya, walaupun sakitnya ga enak.

Tapi sekarang yang begitu-begitu harus dikurang-kurangin.

Orang bilang, menjadi self-less. Tapi setelah dipikir, menjadi selfless atau agak selfless itu seharusnya sejak kita bermasyarakat, gak cuma ketika setelah menikah atau ketika punya keturunan. Karena toh, gak semua hal harus sesuai sama keinginan kita kan, kita juga harus mempersilakan orang-orang untuk mengambil sedikit dari hal-hal yang kita punya, waktu, harta, perasaan.

Memberikan yang terbaik, mempersiapkan yang terbaik bahkan sudah dilakukan sebelum kita memulai pernikahan, yaitu sejak memilih pasangan yang akan menemani kita. Kemudian setelahnya, kita selalu mempersembahkan yang terbaik.

Teringat kata-kata bidan tempat kontrol kehamilanku, bidannya selalu bilang "harus mau perih untuk ngasih yang terbaik untuk anak, untuk keluarga. Karena kita gak tau, kapan kita akan berpisah dengan mereka, kita yang duluan pergi, atau mereka yang duluan pergi."

Karena kita gak tau, apakah masih dikasih waktu untuk bisa ngasih yang terbaik untuk mereka nanti-nanti?
Karena kita gak tau, kapan kita mati.
Karena kita gak tau, kapan waktu solat terakhir kita.

Maka semuanya harus dipersembahkan selalu, yang terbaik.

Komentar